kumat malasnya

malas..malas..malas..malas..malas…

mo ngapa-ngapain malas pengennya cuma males-malesan. pengen tiduran, dengerin radio, noton tipi.. :(

Let’s See Tomorrow!!

Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya.

Baiklah, saya sudah memutuskan maka saya harus bertanggungjawab menerima konsekuensinya. Dan kita lihat, apakah saya mampu melakukannya. Hari libur yang hampir tak ada, dengan semakin sedikit waktu bermain. Inilah hidup, inilah belajar.

Cengeng. Mungkin benar saya cengeng. Saya ingin lebih dewasa tapi saya takut kehilangan naluri anak-anak saya. Kadang hati saya ingin bersenang-senang berbanding terbalik dengan otak saya yang tak mau beristirahat (kecuali sedang tidur). Kadang saya ingin seharian bersantai di rumah atau berlibur ke pantai tapi seolah dalam diri saya ini ada tumpukan-tumpukan energi yang tak mau ditumpahkan hanya dengan bersenang-senang. Ada semacam ketimpangan yang cukup besar antara kepribadian dan hati saya dengan otak dan tuntutan keadaan.

Harinya sudah dimulai kemarin, pada hari Jumat. Setiap hari, tak ada hari libur kecuali tanggal meras di antara hari Senin-Kamis. Apakah saya bisa menjalaninya? Harus bisa. Itu tekad saya. Dengan segala macam konsekuensinya. Untung dan ruginya. Ada rasa takut yang saya simpan dan akan saya jaga untuk mengendalikan pikiran saya. Agar saya tidak melewati batas, tetap pada jalan saya meraih apa yang saya inginkan.

Februari, 27

Jadi, apa yang sudah kamu lakukan selama ini? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Tak ada hadiah atau perayaan. Tidak, bukan itu yang ku cari. aku hanya ingin menjadi lebih baik dan itu sulit sekali.

Flu oh Flu

Bukan ingin cengeng atau bagaimana. Tapi begitulah, flu memang ringan tapi cukup menyebalkan. Di saat semangat menulis saya meraung-raung ingin tertuang, flu datang dan memampatkan kinerja otak saya. Bingung dan tentu saja stress. Kacau pikiran saya karena hasrat tak tersalurkan. Sial! saya hanya bisa memaki diri sendiri, pun hanya di dalam hati.

Aaaaaaaaaargh!!!!! Saya tak tahan lagi! saya ingin melakukannya tapi saya bingung bagaimana openingnya. Masa iya saya langsung pada intinya? Tak bisa seperti itu. Otak bebal, ide kian bertebar, dan semangan pun turut berhamburan.

Saya juga ingin jalan-jalan. Me-refresh otak saya. Saya ingin naik bus, ingin berjalan di tepi jalan raya saat senja. Kalau saya bisa naik motor sendiri, pasti saat ini saya sudah entah dari mana. Huaaaaaa!! saya pengen jalan-jalan.

Masih Perih

Perih. Begitulah rasanya ketika melihat orang yang kita sayang begitu mesra dengan orang lain. Lagi-lagi merasa dibodohkan oleh perasaan sendiri. Dan bingung kenapa rasa ini mesti ada. Haah, saya hanya tersenyum kecut menghadapi kebodohan ini. Menelan bulir demi bulir airmata yang semakin membodohkan. Dasar Bodoh!!!!

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.