Air Matamu
Langit mendung matahari murung
Guntur meraung membuncah pecah
Sepekat mendung itukah hatimu?
Di bawah pohon itu kau berdiri
Melambai menyongsong kehadiranku
Kulihat kau tersenyum
Senyum yang tak seperti biasa
Akupun menyadari dibalik senyum itu
Kau merintih menangis terluka
Dan tak tertahan lagi
Kau pun tersedu dalam pelukku
Sederas hujan airmatamu membasahi
Tak sepatah kata kau ucapkan
Menerjemahkan setiap tetes airmata
About this entry
You’re currently reading “Air Matamu,” an entry on
- Telah Diterbitkan:
- November 7, 2007 / 8:24 am
- Kategori:
- Poetry
- Tag:
Belum ada komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]