Mengapa Begini???*
Siang ini begitu panas. Matahari seolah-olah ingin menghanguskan, meluluh lantahkan bumi. Kuseka peluh yang membasahi pelipisku. Ya Tuhan..!!kirimkanlah sedikit saja angin yang semilir. Aaahh…seandainya saja tadi ada yang menjemputku seperti biasanya. Kemana mereka hari ini ? Chandra? Seno? Rasky? Rachel? Aduh..kemana kalian? Eits..jangan mikir yang bukan-bukan dulu, mereka itu teman sekomplekku. Tapi aku menganggap mereka seperti kakakku sendiri secara mereka memang lebih tua dariku. Meski begitu aku bukan yang terkecil lho, masih ada Tia, dia juga adik kelasku di SMA. Kalau saja tadi Tia nggak ada jam tambahan, aku nggak perlu jalan sendirian untuk pulang. Kucoba menghubungi mereka dengan ponsel tapi nggak ada yang tersambung. Seno? Rasky? Rachel? Aduuh kenapa sih dengan ponsel kalian?? Ok yang terakhir, Candra. Tuut…tuut…”Halo Lin..!” kudengar balasan dari seberang. “Chan..kamu di…” tuut..tuut… Aaargh..terputus….pasti dia lagi sama ceweknya, huuh..sebel!!! Hey!! nggak semestinya aku mengeluh seperti ini, yang semestinya aku lakukan adalah mempercepat langkahku untuk sampai di halte. Naik angkot turun di terminal lalu jalan kaki sejauh 500m untuk sampai rumah. Huuh..panas-panas begini.
Beruntunglah sampai di halte sudah ada angkot yang menanti. Tak perlu aku lama-lama menunggu. Menit pun berlalu, kini aku sudah ada di terminal. Kuayunkan langkahku bergegas. Sayup-sayup dari arah belakang aku dengar suara sepeda motor dan sepertinya aku kenal dengan suara ini,
“Sory Lin, telat jemput, tadi aku ke Rumah Sakit dulu,!?” teriak Seno yang masih nangkring di atas Smash merah kesayangannya.
“Hah!! ke Rumah Sakit? Siapa yang sakit?” sahutku. Tadinya aku mau marah tapi nggak jadi.
“Chandra, dia kecelakaan tadi.”
“Ya ampun, parah nggak lukanya? Sekarang ke Rumah Sakit yuk!”
Tanpa komando aku langsung naik ke boncengan Seno. Aku benar-benar mengkhawatirkan Chandra. Apalagi selama ini kan dia paling anti dengan yang namanya rumah sakit dan obat. Kalaupun terpaksa ke Rumah Sakit itu juga cuma untuk jenguk teman atau saudara.
“Kamu nggak pulang dulu? Ganti baju atau makan dulu? Atau setidaknya ijin dulu sama orang rumah !?” tanya Seno seraya menstarter motornya.
“Nggak usah, ntar ijinnya lewat sms aja. Udah sekarang ke Rumas Sakit !!”
**********?????**********
Selesai parkir aku dan Seno langsung menuju ke ruang ICU. Tadi waktu aku telepon Rasky, katanya Chandra masih dirawat di ICU, masih belum sadar.
Di depan ruang ICU sudah ada orang tua Chandra, Rasky, dan Rachel. Rasky kelihatan panik banget bagaimana tidak, Chandra itu adiknya.
“Gimana keadaan Chandra, Ky?” tanyaku sambil duduk disebelah Rasky.
“Belum tahu Lin, dokter masih ada di dalam.”
“Kamu yang sabar ya Ky,” ku tepuk pundak Rasky dan ia hanya mengangguk.
“Tadi kejadiannya gimana?”
Kudengar tarikan nafas berat Rasky. Sepertinya ia berusaha menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaanku. Di depan kami Om Ruslan mondar-mandir tak sabar menunggu dokter. Tentu beliau lebih panik dari kami.
“Tadinya kita mau jemput kamu dan Tia rame-rame. Hari ini kan ulang tahunnya Chandra, jadi dia mau traktir kita makan. Pas nyampe di tikungan, dia ngeluarin hp mungkin ada telepon. Dia nggak lihat kalau didepannya ada lubang. Sampai akhinya dia terlempar dari motor.” tutur Rasky.
“Apa!!! dia nerima telepon??tadi aku sempat telepon Chandra, jangan-jangan…” Aku tak mampu meneruskan kalimatku. Seluruh persendianku lemas. Rasanya seluruh tulangku rontok, tak lagi menyangga tubuhku.
“Berarti Chandra jatuh karena aku? kalau saja aku tadi lebih bersabar, hal ini mungkin nggak akan terjadi.”
”Sudahlah Lin, mungkin ini sudah menjadi kehendakNya..”
Aku benar-benar menyesal. Rasa bersalah benar-benar menghantuiku. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan Chandra. Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka. Seorang pria berkacamata dan mengenakan jas putih keluar diikuti seorang wanita berseragam putih pula.
“Keluarga Chandra Purnama Sudrajat?”
“Saya ayahnya Dok. Bagaimana anak saya?” tanya Om Ruslan.
Kamipun segera mendekat tak mau ketinggalan.
“Begini, pasien kehilangan banyak darah dan persediaan darah untuk golongan darah B di Rumah Sakit ini habis. Sebaiknya segera mencari pendonor!!”
“Maaf Dok, golongan darah saya B, apa saya bisa jadi pendonor? Oh ya ini kartu pendonor saya.” kataku sambil menunjukkan kartu donor darahku.
“Ooh tentu saja asal kamu memenuhi syarat, kalau begitu jangan sia-siakan waktu. Mari ikut saya, kita adakan pemeriksaan!!”
Aku mengikuti dokter dan perawat itu. Begitu pula dengan Rasky dan Seno sedangkan Rachel menemani Tante Ruslan yang sedari tadi menangis sesenggrukan. Kami memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan nuansa putih. Bau obat di ruang ini menusuk hidung.
“Suster tolong lakukan check darah..!?” perintah dokter itu.
“Baik Dok.., mari Mbak ikut saya!!” kata suster.
Aku mengikuti suster itu ke bagian dalam ruangan tersebut. Rasky dan Seno menungguku sambil berbincang dengan dokter tadi. Mulai dari menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, sampai check Hb semua aku jalani. Sekarang tinggal menunggu hasilnya.
“Permisi Dok, ini hasil check darahnya.” kata suster sambil menyerahkan sebuah map.
“Oh ya, terima kasih Suster..!”
“Baiklah saudara Lintang, berdasarkan hasil pemerikasaan anda memenuhi syarat untuk menjadi pendonor. Sebaiknya kita segera melakukan tranfusi!!”
Kami menuju unit tranfusi yang letaknya disebelah ruang ICU. Tampak dari ruang tranfusu, Chandra terbujur lemas tak berdaya di ruang ICU. Matanya terpejam namun wajahnya tampak tenang. Kepalanya dibalut perban tebal, di lengan kanannya ada beberapa luka ringan. Semakin besar rasa bersalahku padanya. Chandra maafkan aku. Kurasakan ada yang menepuk pundakku, ternyata Seno. Dia lalu mengantarku ke sebuah ranjang di samping ranjang Chandra.
“Kamu yakin Lin?” tanya Seno
“Aduh Seno…ini kan bukan hal baru buatku!?” jawabku meyakinkan. Jujur, meski ini bukan yang pertama buatku, tapi aku gugup juga. Aku gugup karena ini menyangkut nyawa sahabatku. Aku berharap apa yang aku lakukan ini bisa sedikit menebus kesalahanku.
Aku berbaring, lalu seorang suster memasangkan sebuah tensimeter di lenganku. Aaaww!! aku meringis kecil saat sebuah jarum menembus sempurna kulitku. Detik berubah menjadi menit dan menit demi menit pun berlalu. Sedikit demi sedikit kantung itu terisi dan akhirnya, selesai. Suster mencabut selang di lenganku serta melepas tensimeter. Disodorkannya semangkuk bubur ayam, segelas susu, sebutir telur, dan beberapa lembar biscuits diatas sebuah nampan. Namun ketika aku hendak bangun untuk menerima nampan itu, tiba-tiba semuanya gelap.
**********?????*********
Disana, didepan pintu kulihat Chandra berjalan keluar. Kemudian ia membalikkan badannya dan menatapku sambil tersenyum. Aku bingung melihatnya. Bukankah dia tadi terbaring di ranjang masih belum sadar? Lalu kenapa sekarang dia berjalan keluar? Dengan baju yang terkesan asing olehku, baju dengan warna serba putih. Dia melambaikan tangannya padaku.
“Chandra, kamu mau kemana?” teriakku memanggilnya.
“Aku mau pergi, Lintang” jawabnya lembut.
“Nggak!!! kamu nggak boleh pergi, kamu harus tetap disini!!!”
“Nggak Lintang, aku harus pergi.” katanya sambil menatap keluar.
“Tapi kamu mau pergi kemana?”
“Ke tempat dimana tak ada orang yang bisa menggangguku, tempat dimana sayap kedamaian menaungi setiap waktuku.”
“Chandra!!! kamu nggak boleh pergi, Chan…Chandraa…!” aku terus berteriak namun Chandra tak menghiraukanku.
About this entry
You’re currently reading “Mengapa Begini???*,” an entry on
- Published:
- November 22, 2007 / 10:40 am
- Category:
- Story
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]