Mengapa Begini?***

“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan???” tanyaku ketika kami telah berada di ujung koridor.

Kudengar tarikan nafas berat tertahan. Kupastikan apa yang akan dibicarakannya adalah mengenai Chandra. Tiba-tiba dia berbalik. Ada semburat amarah di wajahnya. Kurasakan amarah yang meledak-ledak dalam diri gadis tomboy ini.

“Apa yang udah kamu lakukan pada Chandra?” teriaknya sambil mencengkeram krah kemejaku.

“Apa maksudmu Fi??”

“Sudahlah, nggak usah pura-pura!! Kamu pasti tau maksudku.”jawabnya.

Lalu dia mendorongku hingga aku jatuh membentur tembok. Aku mencoba bangkit. Ingin aku membalasnya, tapi apalah gunanya meladeni orang yang sedang panas hatinya. Beberapa orang yang lewat memperhatikan kami. Entah apa yang terbersit dalam pikiran mereka tentang kami.

“Kamu tahu, semalaman aku menjaga Chandra, duduk disampingnya, mencoba berbicara padanya? Tapi apa yang terjadi ketika dia siuman tadi malam?” teriaknya kemudian.

“Bukan aku yang pertama kali dia sebut namanya, tapi kamu!!!!” lanjutnya.

“Maaf Fi, tapi aku nggak ngerti kenapa begini!!” jawabku.

“Nggak mungkin kamu nggak ngerti, dasar cewek penggoda!!!” Makinya.

“Kok kamu ngomong…”

“Diam!!!”

Dia memutus kalimatku. Tangannya terangkat ke atas hendak menamparku. Mataku terpejam, bersiap menerima tamparannya.

“Apa-apaan kalian ini?”

Sebuah suara terdengar diantara kami. Aku membuka mataku dan kulihat Rasky tengah menahan tangan Lufi yang hampir mendarat di pipiku.

“Kalian nyadar nggak sih, kalo Chandra disana lagi ngregang nyawa?” kata Rasky. Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya ditujukan pada Lufi.

“Gara-gara cewek sialan ini nih!!” Lufi nyolot lagi.

“Udah deh Fi, kamu jangan kayak anak kecil gini!! Mending sekarang kita ke ruang ICU, Chandra udah mau dipindah kamar” sambung Rasky.

Menurut dokter kondisi Chandra sudah stabil. Tak perlu lagi dirawat di ruang ICU, tapi cukup di kamar perawatan umum. Kata dokter ini sebuah keajaiban karena Chandra mampu melalui masa kritis dalam waktu yang relatif singkat. Kami semua jelas berbahagia atas hal itu, meskipun di sisi lain kami harus menerima kenyataan bahwa kaki Chandra mengalami keretakan tulang sehingga harus istirahat total selama dua bulan. Sungguh tak terbendung rasa bersalahku atas apa yang menimpa Chandra. Setiap hari selalu kuluangkan waktu ku untuk mnejenguk Chandra. Baik ketika masih dirawat di Rumah Sakit ataupun ketika telah berada di rumah. Untuk menemaninya jalan-jalan membunuh kebosanan atau hanya sekedar ngobrol di rumahnya.

Waktu terus berlalu, dua bulan pun berlalu. Selama waktu itu aku, Rasky, Seno, Tia, dan Rachel senantiasa menemani dan menjaga Chandra. Tak terkecuali Lufi, meski tak setiap hari dia datang. Selama itu pula bendera perang dingin yang dia kibarkan senantiasa melambai-lambai padaku. Setiap kali aku mencoba mengajaknya berdamai dia selalu menolak.

=====

Seperti sore-sore sebelumnya, aku dan yang lainnya datang kerumah Chandra. Kalau hari-hari kemarin kami datang untuk mengajak Chandra jalan-jalan di taman di ujung kompleks. Tapi kali ini kami akan menemani Chandra ke Rumah Sakit melepas gib di kakinya. Ketika memasuki halaman, terdengar pertengkaran Chandra dengan Lufi,

“………jadi kamu lebih memilih cewek kemarin sore itu daripada aku?” teriak Lufi ditengah derai isak tangisnya.

“Iya!!!” jawab Chandra.

“Ya udah kalau itu maumu, kita putus sekarang!!!”

Terdengar pintu dibanting dan terlihat Lufi keluar. Dia menangis, tentunya dia sangat terguncang.

Plakk!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku saat berpapasan dengannya.

“Puas kamu!!! teriaknya.

Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah Chandra. Aku hanya bias mengelus-elus pipiku yang terasa begitu panas akibat tamparan Lufi. Sedangkan Seno, Tia, dan Rachel hanya melongo menyaksikan adegan tadi.

=====

“Kenapa sich Chan? Kenapa kamu lakukan itu pada Lufi??” tanyaku suatu sore.

Sore itu seperti biasa aku dan yang lainnya ada di taman. Seno, Rasky, Tia dan Rachel sedang main basket di lapangan sebelah taman. Sedangkan Chandra menemaniku memainkan jemari di atas keyboard laptop.

“Kenapa apanya Lin?” jawabnya justru balik bertanya.

“Kenapa kamu putus sama Lufi? Bukankah kalian masih saling sayang?”

“Siapa bilang aku masih sayang dia?”

“Udah deh, nggak usah bo’ong, kamu masih sayang dia kan?” desakku.

Chandra tak menjawab, dia justru membuang mukanya. Sebuah nafas berat dikeluarkannya dengan paksa. Dia memandangku, mengarahkan wajahku ke wajahnya, memaksaku menatap matanya. Begitu tajam ia memandang mataku hingga terasa menusuk ke dalam relung hatiku.

“Aku ingin menjagamu, menjaga hati dan jiwamu.” katanya kemudian.

“Apa maksud kamu?” tanyaku.

Dia berdiri, berjalan beberapa langkah.

“Kamu ingat ketika aku koma di rumah sakit?” tanyanya.

“Iya aku ingat.”

“Waktu itu aku merasa sedang berjalan entah dimana. Di sekelilingku gelap tapi ada banyak titik cahaya. Aku kebingungan, sampai akhirnya aku mendengar sebuah suara memanggilku. Aku mengenali suara itu. Aku mencari sumber suara sambil terus memanggil nama pemilik suara itu.”

tutur Chandra. Lalu dia kembali duduk di sampingku.

“Kamu tahu itu suara siapa?”tanyanya. Aku hanya menggeleng.

“Itu suara kamu!! dan ketika aku sadar dan menyadari apa yang terjadi, dalam hati aku berjanji bahwa aku akan menjagaku dengan segenap jiwaku. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa darahmu kini mengalir dalam tubuhku.” lanjutnya.

Damn!!! Aku benar-benar shock mendengar penuturannya. Aku tak tahu mesti bagaimana. Aku tak mengerti mengapa jadi begini.

=====

“Hey!!! Bengong?” suara Dilan mengagetkanku.

“Yeee…sirik!!! Yang namanya nulis cerpen kan mesti sambil ngelamun!?” jawab Retno sewot.

“Iya tau, tapi nggak liat apa tu dosen dah melenggang kemari? Mau masuk atau disitu aja? Mau kena skors?”

Ku simpan file cerpenku lalu ku tutup laptopku. Aku melenggang masuk kelas bersiap mengikuti kuliah Bahasa Jerman yang begitu membosankan bagiku.


About this entry