Untutkmu Imamku
Betahun-tahun kami menemanimu
Tanpa bisa memberimu sesuatu
Selain rengekan manja nan nakal
Dan kau tak pernah mengeluh untuk mengabulkannya
Ketika suatu hari ku lihat sebutir kristal di sudut matamu
Aku hanya bisa mengira tanpa berani bertanya
Mungkinkah kau lelah mendengar rengekan kami?
Pagi ini saat bukit masih berselimut kabut
Kudengar kau menyapa
Meminta kami untuk membuka mata
Memulai hari menatap dunia
Meski kau tahu mata kami telah terbuka
Telah memulai hari menatap dunia
Namun tanpa pernah mengenal lelah
Sapamu selalu mengawali hari kami
Dan masih di pagi yang sama
Saat kau tuangkan teh di gelas kami
Menatap setiap guratan di wajahmu
Melirik warna putih keperakan di rambutmu
Ku tersadar akan suatu hal
Hari iniā¦.ya di hari ini..
Setengah abad dwiwarsa kau lalui
Pahit getir putaran roda kehidupan
Dan bertahun-tahun kami menemanimu
Tanpa sesuatu dari kami di setiap hitungannya
Kau pun tak pernah memintanya
Bahkan mungkin kau lupa setiap hitungannya
Tapi hari ini
Dengan seganap cinta dari kami
Beramai membisik rangkaian kata-kata
Selamat ulang tahun ayah
Kami bangga menjadi putra-putrimu
About this entry
You’re currently reading “Untutkmu Imamku,” an entry on
- Telah Diterbitkan:
- Desember 13, 2007 / 11:33 am
- Kategori:
- Poetry
- Tag:
Belum ada komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]