Timmy
Timmy
Sepasang kaki kecil itu bergerak perlahan, berjingkat, dan mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Matanya awas menengok ke kanan dan ke kiri, waspada. Kedua tangannya memeluk makhluk kecil berbulu. Sesekali makhluk kecil itu menggeliat dan membut geli si pembawanya. Sayang, dia tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi gerak geriknya sejak tadi. Dia terlalu asik dengan pikirannya akan makhluk yang dia peluk.

“Non??” sebuah suara membuat jantung mungilnya berhenti berdetak.
“Aduk mbok ini, ngagetin Nana aja” jawab Nana tergagap.
“Non ngapain ngendap-ngendap gitu? eh itu apaan?” tanya Mbok Onah yang tak lain adalah pembantunya.
“Eh anu, ini…ehmm..” Nana bingung bagaimana mengatakannya.
“Non, bukannya tuan dan nyonya nggak suka kalo ada kucing atau anjing masuk rumah?” tanya mbok Onah mengingatkan.
“Tapi mbok..”
“Non nggak takut kalo nanti dimarahin sama den Sarif, papanya non?”
“Tapi Nana pengen melihara kucing ini. Lihat dech, lucu kan wajahnya?” kata Nana sambil menunjukkan kucing itu.
Lucu memang, piker mbok Onah. Bulunya berwarna putih kecuali di seputar mata kanannya berwarna abu-abu belang. Melihat wajah polos nan lugu yang menatapnya memelas itu rasanya mbok Onah tak tega untuk menolak tapi jika mengingat kalo majikan laki-lakinya begitu alergi dengan bulu hewan,
“Ya mbok? Bantuin Nana merawat Timmy!” rengek Nana.
Mbok Onah tak tega untuk menolak. Apalagi Nana telah memberi nama pada kucing itu. Wanita paruh baya itu lalu memeras otak mencari solusi agar bisa menolong majikan kecilnya tanpa di ketahui oleh pak Sarif, papanya Nana.
“Ya sudah mbok bantuin tapi non harus janji dulu?“ ucap mbok Onah akhirnya.
“Bener mbok mau bantuin? Asiiikkk…Nana harus janji apa mbok? Pasti deh Nana tepati.” jawab Nana kegirangan sambil menggelayut manja.
“Pertama, Tammy hanya boleh..”
“Mbok, namanya Timmy bukan Tammy!” tukas Nana meralat.
“Oh iya, Timmy harus tinggal di halaman belakang dan tidak boleh masuk rumah. Apalagi masuk ke kamar atau ruang kerja tuan. Kedua, non Nana harus merawat dan mengawasi Timmy setiap hari, nggak boleh terlambat apalagi lupa kasih makan. Setuju?”
“Setuju!!!” sahut Nana.
“Satu lagi non,” sambung mbok Onah.
“Apalagi mbok?”
“Non hanya boleh mengajak bermain Timmy di teras belakang, nggak boleh di depan!”
“Siap boss!” jawab Nana jenaka.
Setelah sepakat, keduanya lalu menuju ke halaman belakang dan menyembunyikan Timmy di dekat gudang. Mereka letakkan pula sebuah kardus berisi kain bekas untuk Timmy tidur. Dengan riang Nana bermain-main dengan Timmy. Mbok Onah dengan setia mengawasi majikan kecilnya itu dari kejauhan sambil berjaga-jaga kalo pak Sarif datang.
***
Tak terasa sudah satu minggu Timmy tinggal di rumah itu. Mbok Onah mulai khawatir karena sesekali Timmy mengeong di bawah jendela dapur. Majikannya, pak Sarif pun mulai sering bersin-bersin. Untungnya pak Sarif mengira beliau terkena flu dan tak begitu mrnghiraukan suara Timmy. Minggu ini nyonya Sarif juga jarang ke halaman belakang mengurus beberapa tanaman kesayangannya karena sibuk dengan bisnis barunya.
Seperti biasa sepulang sekolah Nana bermain dengan Timmy di teras belakang. Sedangkan mbok Onah sibuk dengan baju-baju setrikaan. Tiba-tiba bel berbunyi, dua orang teman sekelas Nana berdiri di balik pintu sambil berteriak-teriak.
“Nana….Nana….ayo main!!” teriak mereka bebarengan.
Nana yang mendengar panggilan itu bergegas keluar menemui teman-temannya. Ia tinggalkan Timmy begitu saja.
“Hey Susan, Doli, mau main apa?” tanya Nana begitu mereka telah berkumpul di teras depan.
“Gimana kalau kita main Sang Putri aja, aku bawa bedaknya mama,” usul Doli.
“Ayo!!” sahut yang lain.
Ketiga gadis kecil itu bermain dengan riang. Nana yang terpilih menjadi Sang Putri tampak antusias saat Doli dan Susan mendandaninya. Nana lupa bahwa ia belum memberi makan Timmy dan mengembalikannya ke dekat gudang.
Di teras belakang Timmy mulai mengeong. Kucing itu melompat masuk dapur melalui jendela. Piring-piring kotor bekas dipakai sarapan tadi pagi menjadi sasaran lidah Timmy. Tak cukup dengan apa yang didapatkannya, Timmy lalu menjelajahi setiap sudut untuk mendapatkan makanan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Timmy hingga waktu pak Sarif dan istrinya pulang.
“Haatsyyyyy….haatsyyyyy…..haaatsyyyyy…..”
Dari dalam ruang kerjanya, terdengar pak Sarif bersin-bersin. Tak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali.
“Haaatsyyy..haatsyyy….”
“Papa kenapa? Sakit flu?” tanya istrinya sambil tergopoh-gopoh dari ruang makan.
“Entahlah ma, tapi…haatsyy….haaatsyyyyy…” jawab pak Sarif sambil terus bersin.
Mendengar majikannya terus bersin-bersin tak terkendali, bergegas mbok Onah ke halaman belakang. Ia ingin memastikan bahwa ketakutannya tak terbukti. Betapa terkejutnya mbok Onah ketika tak didapatinya Timmy di kardusnya. Lalu dicarinya Nana.
“Non? Timmy kemana?” tanya mbok Onah setengah berbisik.
“Apaan sich mbok, gangguin Nana aja. Nana kan lagi baca komik,” sahut Nana kesal.
“Non, dengerin mbok, Timmy nggak ada di kardusnya dan papanya non sekarang sedang bersin-bersin.” jelas mbok Onah.
Nana menatap mbok Onah seraya memperhatikan apa benar papanya sedang bersin-bersin. Bergegas Nana keluar kamar dan mengintip ke ruang kerja pak Sarif.
“Aduuh..lebih baik papa segera minum obat. Masih kan obat alerginya?” terdengar suara mamanya.
“Papa yakin ada hewan di rumah ini Ma, kemarin papa seperti mendengar suara kucing di dekat dapur.” ucap pak Sarif saat bersinnya mereda.
“Masa sich Pa? mama nggak denger, mungkin perasaan papa saja?” sanggah istrinya.
Dari balik pintu Nana mulai ketakutan, jangan-jangan papanya tahu kalau ia diam-diam menyembunyikan Timmy. Di belakangnya, mbok Onah mulai cemas. Tuannya pasti akan marah besar kalo sampai menemukan kucing itu. Nana kembali mengintip, saat itulah ia lihat Timmy sedang berbaring di bawah lemari buku.
“Mbok, Timmy ada di dalam,” bisiknya.
“Dimana non?”
“Di bawah lemari buku, gimana ngambilnya Mbok?” tanya Nana. Matanya mulai berkaca-kaca hampir menangis.
Dari dalam ruangan terdengar mama bergumam,
“Sebaiknya papa istirahat di kamar, besok kita bahas lagi,” saran mama.
“Papa pikir juga begitu tapi papa mau menengok Nana dulu.” terdengar suara papa beriringan dengan langkahnya mendekati pintu.
Bergegas Nana menuju kamarnya dan berpura-pura telah tertidur. Papa yang tidak menyadari kepura-puraan itu mencium lembut kening Nana sebelum kemudian bersin lagi. Nana menjadi merasa bersalah karena telah melanggar larangan papa untuk tidak membiarkan hewan masuk rumah.
***
Siang itu di teras belakang Nana tengah bermain dengan Timmy. Di sampingnya ada sebuah kotak kardus bekas air mineral. Kotak kardus itu didapatkannya dari warung di ujung jalan.
“Timmy, maafin Nana ya. Bukannya Nana nggak sayang Timmy tapi Nana lebih sayang sama papa. Nana nggak mau papa bersin-bersin terus.” ujar Nana sambil mengelus kepala Timmy kemudian memasukkannya ke dalam kardus.
Satu per satu bulir bening airmata Nana mengalir. Timmy seolah mengerti maksud Nana mengeong lirih sambil menjilat lembut tangan Nana.
“Semoga Timmy dapat teman yang baik ya!” harap Nana.
Tanpa Nana sadari papa telah berdiri di balik pintu menyaksikan adegan itu. Papa sangat terharu melihat pengorbanan Nana. Papa tahu, sudah lama Nana ingin punya hewan peliharaan tapi karena takut alerginya kambuh, papa menolak keinginan itu. Sampai kemudian Nana berdiri hendak beranjak, ia pun keluar
“Nana?” panggil papa.
“Eh..oh..Papa..emm..Nana..” Nana tergagap melihat papanya.
“Itu apa Na?” tanya papa pura-pura tidak tahu.
“Eh..ini..ini…emm..” Nana menunduk dalam-dalam mencari jawaban atas pertanyaan papa. Haruskah ia berbohong? pikir Nana.
“Kamu yang bawa kucing ke rumah?” tanya papa kemudian.
“Maafkan Nana Pa, Nana kasihan lihat Timmy di tempat sampah jadi..”
“Jadi yang menyebadkan alergi Papa kambuh adalah kucing itu?” tukas papa.
“Maafin Nana Pa dan Papa nggak usah khawatir, kucing ini akan Nana kembalikan ke tempat sampah kok,” sahut Nana. Sedih sekali hatinya harus berpisah dengan Timmy.
“Nana sayang sama kucing ini?” tanya papa
“Sayang, eh..tapi Nana lebih sayang Papa kok, swear dech!” kata Nana sambil mengangkat dua jarinya.
Papa lalu mengambil kardus berisi Timmy dan meletakkannya sedikit menjauh. Lalu dipeluknya putrid semata wayang itu. Dibisikkannya sesuatu ke telinga Nana,
“Nana boleh kok pelihara kucing,” bisik papa.
Nana terkejut dan melepaskan pelukan papa. Ditatapnya papa lekat-lekat kemudian berkedip-kedip tak percaya.
“Lalu bersinnya Papa?” tanya Nana masih tak percaya
“Nanti Papa akan pesankan kandang, biar kucingnya nggak kemana-mana,”
“Bener Pa?” tanya Nana seakan tak percaya papa akan mengijinkannya memelihara kucing.
“Timmy, kamu boleh tinggal disini,,” teriak Nana.
Papa tersenyum dan mengangguk. Dengan manja Nana memeluk erat papanya.
About this entry
You’re currently reading “Timmy,” an entry on
- Published:
- April 9, 2008 / 11:12 am
- Category:
- Story
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]