Sebuah Rasa
Tak pernah kusangka akan seperti ini. Empat tahun lalu, kau bukan siapa-siapa bagiku. Terlalu sedikit potongan kata yang terucap diantara kita. Sikapmu yang misterius sering membuatku jengkel karena tak bisa mengerti jalan pikiranmu. Di mataku kau bak seonggok patung yang tak mampu berbuat apapun. Kini semua itu kandas. Kini kau laksana cermin bagiku. Meski kau masih suka bersikap misterius tapi kaulah salah satu sahabat terbaikku. Bahkan mungkin yang paling mengerti, paling protektif, paling memahami, dan paling memanjakanku. Mungkin semua itu karena jarak usia diantara kita hanya terpaut dua tahun sehingga aku merasa seperti berhadapan dengan sosok yang aku harapkan kehadirannya dari dulu, seorang kakak.
Semua berawal dari rangkaian kata-kata dalam layanan sms. Kau yang di awal kedekatan kita empat tahun lalu memutuskan merantau dua minggu setelahnya. Yang kemudian mengijinkanku menjadi penghubungmu dengan keluargamu, berlanjut menjadi kawan bercerita dan curhat. Bahkan hanya sekedar teman untuk berjaga sejenak sebelum aku mengarungi lautan mimpi. Terus berlanjut hingga kau putuskan untuk kembali pulang ke kota kecil ini, bersatu lagi dengan kami di sini. Sejak kepulanganmu, tak pernah semalampun terlewatkan tanpa kehadiranmu di rumahku (saat itu kamu masih jomblo). Entah untuk bercerita ataupun curhat. Pernah suatu malam kamu datang ke rumah. Kita hanya berdua duduk di teras berselimut kebisuan. Entah apa maksud kedatanganmu, aku tak berani bertanya karena itu bukan pertama kalinya kamu berbalut kebisuan. Entahlah, mungkin cukup bagimu bisa berbagi kebisuan denganku.
Kadang aku merasa ada chemistry di antara kita. Saat aku sedang suntuk, tiba-tiba kamu datang. Pun sebaliknya, ketika tak bisa lagi ku tahan keinginanku untuk tak bertegur denganmu, di saat yang sama pula kau tengah dalam kegundahan. Hal itu mungkin yang menyebabkan beberapa teman lain mengira ada sesuatu yang lebih dari sekedara sahabat diantara kita. Apalagi jika melihat sikapmu yang terkadang berlebihan padaku. Kamu yang tiba-tiba mengelus dan membelai rambutku saat menanyakan kabarku dan tak hanya sekali dua kali kamu menatapku dengan sangat lama dan dalam sedang aku tak berani membalasnya. Tak jarang pula kata-kata yang spontan kamu ucapkan membuatku bingung, sekedar menggoda atau memang dari hati. Jadi apa aku salah jika aku mengartikan lain atas semua perlakuanmu???
Sebuah perasaan yang muncul yang aku tak tahu sejak kapan. Tak berani aku menyebutnya cinta karena aku sadar benar sekarang kau telah berpunya. Tak sedikitpun terbersit rasa cemburu pada kekasihmu yang merenggut status jomblo darimu. Aku pun tak memungkiri ketika aku merindukan perhatian-perhatianmu yang kini mulai sirna karena kehadirannya. Merindukan sms-sms darimu memenuhi inbox-ku. Merindukan kebisuan yang selalu kau hadirkan.
“Bukan cinta memang tapi kasihku terlampau dalam”
About this entry
You’re currently reading “Sebuah Rasa,” an entry on
- Telah Diterbitkan:
- Mei 12, 2008 / 1:30 pm
- Kategori:
- share
- Tag:
Belum ada komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]