Diakah itu???
Akhirnya, sudah berjam-jam saya menanti kehadirannya. Suara yang meraung-raung penanda berakhirnya penataran hari ini. Lelah dan membosankan, hanya itu yang saya rasakan. Terpenjara dalam dunia seluas 10×15 meter sambil mendengarkan pembicara yang begitu monoton membicarakan mengenai tata tertib pegawai pada jam kerja. Mengenai sanksi-sanksi pelanggarannya.
Segar. Itu yang saya rasakan begitu keluar dari ruangan. Angin yang berhembus malu-malu mengusap lembut titik-titik air di dahi saya. Tanpa peduli sekitar, saya putar pinggang saya sehingga memunculkan bunyi gemeretak berpatahan. Tiba-tiba kedua mata saya terpaku pada sesosok laki-laki yang berdiri di bawah pohon akasia. Sosok yang rasa-rasanya tak asing lagi bagi saya. Seorang laki-laki yang saya kenal sejak lima belas tahun silam. Namun tak pernah terdengar kabar darinya dalam lima tahun terakhir ini. Tepatnya semenjak kami diterima di SMU yang berbeda. Dia memilih mendaftar di SMU yang terkenal nomor satu bidang akademisnya sedangkan saya memilih SMU yang memiliki tingkat kedisiplinan terbaik di kota kami. Semenjak itu entah mengapa jaring komunikasi kami seolah menjadi suatu kemayaan.
Dia itu sahabat saya. Sahabat sekaligus rival dalam meraih prestasi akademik di sekolah. Sedari kami masih duduk di bangku TK hingga SMP, persaingan itu tak pernah berakhir. Dia yang selalu menjadi primadona bagi teman-teman perempuan saya. Dia yang membuat saya hampir setiap hari harus menjelaskan bagaimana hubungan kami kepada para pemujanya. Dia yang pertama kali mengajarkan pada saya rasanya patah hati sebelum merasakan utuhnya hati itu sendiri. Dialah yang pertama kali membuat saya patah hati karena saya mengartikan lain persahabatan kami. Tapi dia yang pada akhirnya menyadarkan saya bahwa yang terbaik adalah kami tetap menjadi sahabat.
Masih lekang dalam ingatan saya, bagaimana dia mengeluarkan saya dari sebuah lingkaran hitam. Lingkaran hitam yang sempat menjerat saya ketika memasuki masa remaja. Jangan, jangan berpikir bahwa saat itu saya menjadi seorang gadis yang liar yang suka huru-hara hingga akhirnya terjerat narkiba. Tidak sejauh itu kejadiannya. Lingkaran hitam yang saya maksud disini hanyalah sebuah sikap hasil terjemahan dari pribadi maskulin yang lebih mendominasi daripada sifat feminin saya sebagai gadis remaja. Suatu sikap yang terkadang membuat beberapa anak laki-laki harus berpikir dua kali untuk berurusan dengan saya. Sikap yang membuat beberapa teman perempuan merasa aman jika harus berjalan melewati sederet anak laki-laki jahil di lorong.
“Tak semestinya anak perempuan bersikap sekasar itu,” katanya suatu hari ketika luapan amarah saya mencapai ubun-ubun. Sebelum akhirnya dia meninggalkan saya termenung sendirian di lorong sekolah. Hari itu saya berkelahi dengan seorang siswa laki-laki. Saya lupa apa permasalahannya, yang saya ingat bahwa hari itu saya benar-benar marah sehingga saya harus mengeluarkan kata-kata yang terlampau kasar.Bahkan untuk anak laki-laki sekalipun. Hari itu menjadi awal baru bagi saya karena sejak hari itu, sedikit demi sedikit saya mulai berubah. Saya yang biasanya bicara tanpa tedheng aling-aling, berubah menjadi seorang gadis yang bertutur halus. Sikap saya kepada teman-teman laki-laki juga mulai berubah sehingga mereka benar-benar bisa menghargai saya dan memperlakukan saya sebagai perempuan.
****
Berkali-kali dia mengambil ponsel dari saku kemejanya. Berkali-kali pula dia menengok ke kanan dan ke kiri. Mungkin dia sedang menanti seseorang dengan ditemani kegusaran. Aaah, dia masih seperti dulu. Cara berjalannya yang tegap dan tampak gagah, cara berpakaiannya yang rapi, bahkan ekspresi kegusarannya pun masih sama dengan yang ada dalam ingatan saya.
“Benarkah itu dia?” sebuah pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak saya. Bahkan logika dan keyakinan sesaat bertengkar. “Mana mungkin itu dia, seharusnya dia sudah tak mengikuti penataran ini lagi,” begitu logika saya mendebat keyakinan yang berkata, “Itu memang dia, semua yang tampak padanya sama persis dengan yang tersimpan dalam memori saya,”. Haruskah saya menemuinya? Menyapanya dan berbasa-basi menanyakan kabarnya?
Saya melangkah perlahan namun pasti. Memperpendek jarak diantara kami. Sedikit terkejut dia melihat saya. Pastinya. Karena penampiulan saya saja sudah sangat berbeda dengan dulu. Setidaknya dari segi penampilan. Beberapa tahun belakangan memang saya melakukan sedikit perubahan pada penampilan saya. Bukan apa-apa, hanya ingin berganti suasana saja. “Hai, apa kabar?” tanyanya saat saya sudah berdiri di hadapan saya.
Aaahh, sayang, itu hanya ada dalam khayal saya. Pada kenyataannya saya tetap berdiri di titik yang sama. Menatapnya terus melangkah, menjauh dari sudut pandang saya. Entah kapan lagi saya bisa bertemu dengannya.
About this entry
You’re currently reading “Diakah itu???,” an entry on
- Telah Diterbitkan:
- Juli 8, 2008 / 8:51 am
- Kategori:
- Story
- Tag:
Belum ada komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]