Lukanya Meradang

Ada bendung kristal hangat di sudut matanya. Semakin tak terbendung hingga akhirnya dingin menganak sungai di pipinya. Pipi yang mulai terhiasi oleh keriput jaman. 22 tahun lamanya dia memendam luka itu. Kini perihnya kembali meradang, menyiksa, dan membuatnya merintih dalam hati. Dia ingin menyimpan sendiri perih itu. Tapi sayang, darahnya yang mengalir di tubuhku memberitahukannya padaku. Membagikan rasa perihnya di hatiku.

Tanggal 10 agustus nanti Om Santo akan menikah. Itu yang meradangkan lukanya. Sekian tahun dia sesalkan sikap nenek yang tak berubah juga. Berpikr cethek, aku menyebutnya. Takut kehilangan harta untuk menikahkan anaknya. Entah bagaimana pikiran itu terus merasuk.

Tak kan kubiarkan kau menangisi masa lalumu

Karena  dari pahitnya masa lalu aku terlahir

Terlahir sebagai tumpuan untuk senja

Baktiku akan menjadi obat bagi lukamu


About this entry