Lukanya Meradang
Ada bendung kristal hangat di sudut matanya. Semakin tak terbendung hingga akhirnya dingin menganak sungai di pipinya. Pipi yang mulai terhiasi oleh keriput jaman. 22 tahun lamanya dia memendam luka itu. Kini perihnya kembali meradang, menyiksa, dan membuatnya merintih dalam hati. Dia ingin menyimpan sendiri perih itu. Tapi sayang, darahnya yang mengalir di tubuhku memberitahukannya padaku. Membagikan rasa perihnya di hatiku.
Tanggal 10 agustus nanti Om Santo akan menikah. Itu yang meradangkan lukanya. Sekian tahun dia sesalkan sikap nenek yang tak berubah juga. Berpikr cethek, aku menyebutnya. Takut kehilangan harta untuk menikahkan anaknya. Entah bagaimana pikiran itu terus merasuk.
Tak kan kubiarkan kau menangisi masa lalumu
Karena dari pahitnya masa lalu aku terlahir
Terlahir sebagai tumpuan untuk senja
Baktiku akan menjadi obat bagi lukamu
About this entry
You’re currently reading “Lukanya Meradang,” an entry on
- Published:
- Juli 23, 2008 / 2:37 pm
- Category:
- share
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]