Aku tak Menyesali Penyesalanku
Penyesalan selalu datang di akhir. Dan keragu-raguan itu ada di awal. Keduanya datang bersamaan beriringan dalam beberapa terakhir hariku. Ya, dari awal saya ragu untuk mengikuti acara tersebut. Entah mengapa saya tetap saja terus melangkah mengikuti prosedur demi prosedur. Mungkin karena orang-orang di sekitar mendukung keikut sertaan saya.
Prosesi pertama adalah memutuskan untuk bergabung. Bingung antara iya dan tidak. “Ayolah…kalau kau ikut aku juga ikut.”, “Kamu ikut kan? Pasti kamu lulus deh, aku jamin!”, “Masa kamu ga ikut? Sayang lho, masa ke kampus cuma gitu-gitu aja?”, kalimat-kalimat itu terus menyugesti otak. Dan saya pun mulai jengah dengan rengekan sejenis lainnya. Cuma satu kata yang menghentikannya, yaitu “iya” . Dan saya akhirnya mengakhiri prosesi pertama ini dengan kata “iya”.
Prosesi kedua adalah mendaftar, mengisi formulir. Demi keinginan untuk tidak lulus, maka formulir yang semestinya diisi dengan sejujur-jujurnya pun termanipulasi oleh kebohongan. Sampai pada prosesi kedua ini saya masih ragu-ragu untuk melangkah dan saya pun menyesal telah mengiyakan. Entahlah, ada ketidak sinkron-an antara gerak tubuh ini dengan kehendak hati. Ingin berhenti tapi terus melangkah maju.
Selanjutnya adalah seleksi dengan interview. Ini prosesi yang membosankan. Duduk, menunggu giliran sedang perut masih keroncongan. Ingin keluar sebentar cari makan tapi sayang, turun hujan. Tak ada yang bisa dikerjakan selain ngobrol dan bercanda. Meskipun mengeluarkan tenaga tapi cukup untuk melupakan rasa lapar. Waktu terus berjalan dan tibalah giliran saya berbicara. Lagi-lagi saya menyembunyikan kebenaran. Tak sedikit pertanyaan yang saya jawab dengan kebohongan. Dan saya tak menyukai interview tersebut. Sampai disini saya berharap besar tidak lolos. Karena yang saya lihat dari peserta lain adalah mereka lebih pantas untuk terus maju. Lebih layak secara sosial maupun individu, waktu maupun pikiran. Saya keluar dengan penuh kekesalan pada pewawancara.
Saya sedang duduk bercumbu dengan kompi ketika sebuah sms datang ke ponsel saya. “Kamu lolos, selamat ya!!”. Kenapa? kenapa doa saya tak dikabulkan? ada rahasia apa dibalik ini? Saya tak tahu lagi harus berbuat apa. Rasanya terlalu gengsi untuk berpura-pura sakit apalagi kabur tanpa kabar demi menghentikan gerakan itu. Merasa tak ada jalan lain, dengan penuh keraguan dan penyesalan saya terus melangkah.
Terus seperti itu perasaan saya. Sekalipun ragu dan menyesal, toh saya berangkat juga. menunggu bus, duduk di dalam bus, menuju kampus. Dari mulai pembekalan sampai hari pelaksanaan. Baru kali ini saya mengikuti kegiatan dengan menginap selama dua hari dua malam tanpa membawa serta hati saya. Artinya saya tidak ikhlas menjalani semua itu. Seharian mendengarkan trainner, semalaman belajar berdemo (istilah saya). Njereng usus Njereng mata, itu istilah saya. Mesti sabar meski mengantuk. Saya tak mungkir kalo ada hal positif yang saya dapat. Sayangnya hati saya sudah terlanjur kesal. Tapi dalam hati saya meyakinkan diri bahwa untuk mengamalkan apa yang saya dapat itu. Sekalipun dalam konteks saya sendiri.
About this entry
You’re currently reading “Aku tak Menyesali Penyesalanku,” an entry on
- Published:
- Februari 13, 2009 / 10:51 am
- Category:
- share
- Tags:
No comments yet
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]