<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title> &#187; Story</title>
	<atom:link href="http://dhewie.wordpress.com/category/story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dhewie.wordpress.com</link>
	<description>Aku sendiri berpeluk diam, bercumbu dengan kata</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2009 05:23:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='dhewie.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/24804dbb13fc6fcbf9dbfa6de57369b0?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title> &#187; Story</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dhewie.wordpress.com/osd.xml" title="" />
		<item>
		<title>Diakah itu???</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2008/07/08/diakah-itu/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2008/07/08/diakah-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 01:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya, sudah berjam-jam saya menanti kehadirannya. Suara yang meraung-raung penanda berakhirnya penataran hari ini. Lelah dan membosankan, hanya itu yang saya rasakan. Terpenjara dalam dunia seluas 10&#215;15 meter sambil mendengarkan pembicara yang begitu monoton membicarakan mengenai tata tertib pegawai pada jam kerja. Mengenai sanksi-sanksi pelanggarannya.
Segar. Itu yang saya rasakan begitu keluar dari ruangan. Angin yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=72&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">Akhirnya, sudah berjam-jam saya menanti kehadirannya. Suara yang meraung-raung penanda berakhirnya penataran hari ini. Lelah dan membosankan, hanya itu yang saya rasakan. Terpenjara dalam dunia seluas 10&#215;15 meter sambil mendengarkan pembicara yang begitu monoton membicarakan mengenai tata tertib pegawai pada jam kerja. Mengenai sanksi-sanksi pelanggarannya.</p>
<p class="MsoNormal">Segar. Itu yang saya rasakan begitu keluar dari ruangan. Angin yang berhembus malu-malu mengusap lembut titik-titik air di dahi saya. Tanpa peduli sekitar, saya putar pinggang saya sehingga memunculkan bunyi gemeretak berpatahan. Tiba-tiba kedua mata saya terpaku pada sesosok laki-laki yang berdiri di bawah pohon akasia. Sosok yang rasa-rasanya tak asing lagi bagi saya. Seorang laki-laki yang saya kenal sejak lima belas tahun silam. Namun tak pernah terdengar kabar darinya dalam lima tahun terakhir ini. Tepatnya semenjak kami diterima di SMU yang berbeda. Dia memilih mendaftar di SMU yang terkenal nomor satu bidang akademisnya sedangkan saya memilih SMU yang memiliki tingkat kedisiplinan terbaik di kota kami. Semenjak itu entah mengapa jaring komunikasi kami seolah menjadi suatu kemayaan.</p>
<p class="MsoNormal">Dia itu sahabat saya. Sahabat sekaligus rival dalam meraih prestasi akademik di sekolah. Sedari kami masih duduk di bangku TK hingga SMP, persaingan itu tak pernah berakhir. Dia yang selalu menjadi primadona bagi teman-teman perempuan saya. Dia yang membuat saya hampir setiap hari harus menjelaskan bagaimana hubungan kami kepada para pemujanya. Dia yang pertama kali mengajarkan pada saya rasanya patah hati sebelum merasakan utuhnya hati itu sendiri. Dialah yang pertama kali membuat saya patah hati karena saya mengartikan lain persahabatan kami. Tapi dia yang pada akhirnya menyadarkan saya bahwa yang terbaik adalah kami tetap menjadi sahabat.</p>
<p class="MsoNormal">Masih lekang dalam ingatan saya, bagaimana dia mengeluarkan saya dari sebuah lingkaran hitam. Lingkaran hitam yang sempat menjerat saya ketika memasuki masa remaja. Jangan, jangan berpikir bahwa saat itu saya menjadi seorang gadis yang liar yang suka huru-hara hingga akhirnya terjerat narkiba. Tidak sejauh itu kejadiannya. Lingkaran hitam yang saya maksud disini hanyalah sebuah sikap hasil terjemahan dari pribadi maskulin yang lebih mendominasi daripada sifat feminin saya sebagai <span> </span>gadis remaja. Suatu sikap yang terkadang membuat beberapa anak laki-laki harus berpikir dua kali untuk berurusan dengan saya. Sikap yang membuat beberapa teman perempuan merasa aman jika harus berjalan melewati sederet anak laki-laki jahil di lorong.</p>
<p class="MsoNormal">“Tak semestinya anak perempuan bersikap sekasar itu,” katanya suatu hari ketika luapan amarah saya mencapai ubun-ubun. Sebelum akhirnya dia meninggalkan saya termenung sendirian di lorong sekolah. Hari itu saya berkelahi dengan seorang siswa laki-laki. Saya lupa apa permasalahannya, yang saya ingat bahwa hari itu saya benar-benar marah sehingga saya harus mengeluarkan kata-kata yang terlampau kasar.Bahkan untuk anak laki-laki sekalipun. Hari itu menjadi awal baru bagi saya karena sejak hari itu, sedikit demi sedikit saya mulai berubah. Saya yang biasanya bicara tanpa <em>tedheng aling-aling, </em>berubah menjadi seorang gadis yang bertutur halus. Sikap saya kepada teman-teman laki-laki juga mulai berubah sehingga mereka benar-benar bisa menghargai saya dan memperlakukan saya sebagai perempuan.</p>
<p class="MsoNormal">****</p>
<p class="MsoNormal">Berkali-kali dia mengambil ponsel dari saku kemejanya. Berkali-kali pula dia menengok ke kanan dan ke kiri. Mungkin dia sedang menanti seseorang dengan ditemani kegusaran. Aaah, dia masih seperti dulu. Cara berjalannya yang tegap dan tampak gagah, cara berpakaiannya yang rapi, bahkan ekspresi kegusarannya pun masih sama dengan yang ada dalam ingatan saya.</p>
<p class="MsoNormal">“Benarkah itu dia?” sebuah pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benak saya. Bahkan logika dan keyakinan sesaat bertengkar. “Mana mungkin itu dia, seharusnya dia sudah tak mengikuti penataran ini lagi,” begitu logika saya mendebat keyakinan yang berkata, “Itu memang dia, semua yang tampak padanya sama persis dengan yang tersimpan dalam memori saya,”. Haruskah saya menemuinya? Menyapanya dan berbasa-basi menanyakan kabarnya?</p>
<p class="MsoNormal">Saya melangkah perlahan namun pasti. Memperpendek jarak diantara kami. Sedikit terkejut dia melihat saya. Pastinya. Karena penampiulan saya saja sudah sangat berbeda dengan dulu. Setidaknya dari segi penampilan. Beberapa tahun belakangan memang saya melakukan sedikit perubahan pada penampilan saya. Bukan apa-apa, hanya ingin berganti suasana saja. “Hai, apa kabar?” tanyanya saat saya sudah berdiri di hadapan saya.</p>
<p class="MsoNormal">Aaahh, sayang, itu hanya ada dalam khayal saya. Pada kenyataannya saya tetap berdiri di titik yang sama. Menatapnya terus melangkah, menjauh dari sudut pandang saya. Entah kapan lagi saya bisa bertemu dengannya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/72/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/72/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=72&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2008/07/08/diakah-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Timmy</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2008/04/09/timmy/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2008/04/09/timmy/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 04:12:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Timmy
Sepasang kaki kecil itu bergerak perlahan, berjingkat, dan mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Matanya awas menengok ke kanan dan ke kiri, waspada. Kedua tangannya memeluk makhluk kecil berbulu. Sesekali makhluk kecil itu menggeliat dan membut geli si pembawanya. Sayang, dia tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi gerak geriknya sejak tadi. Dia terlalu asik dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=52&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Timmy</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sepasang kaki kecil itu bergerak perlahan, berjingkat, dan mengendap-endap memasuki pekarangan rumah. Matanya awas menengok ke kanan dan ke kiri, waspada.<span> </span>Kedua tangannya memeluk makhluk kecil berbulu. Sesekali makhluk kecil itu menggeliat dan membut geli si pembawanya. Sayang, dia tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasi gerak geriknya sejak tadi. Dia terlalu asik dengan pikirannya akan makhluk yang dia peluk.</p>
<p><img class="alignleft" style="float:left;" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:slNfuPqCjR-bdM:http://bp0.blogger.com/_FZrpjohmtC0/Re6CaeOnJpI/AAAAAAAAABU/RZPcPKthGUI/s320/kucing%2Bsmile.jpg" alt="" width="125" height="144" /></p>
<p class="MsoNormal">“Non??” sebuah suara membuat jantung mungilnya berhenti berdetak.</p>
<p class="MsoNormal">“Aduk mbok ini, ngagetin Nana aja” jawab Nana tergagap.</p>
<p class="MsoNormal">“Non ngapain ngendap-ngendap gitu? eh itu apaan?” tanya Mbok Onah yang tak lain adalah pembantunya.</p>
<p class="MsoNormal">“Eh anu, ini…ehmm..” Nana bingung bagaimana mengatakannya.</p>
<p class="MsoNormal">“Non, bukannya tuan dan nyonya nggak suka kalo ada kucing atau anjing masuk rumah?” tanya mbok Onah mengingatkan.</p>
<p class="MsoNormal">“Tapi mbok..”</p>
<p class="MsoNormal">“Non nggak takut kalo nanti dimarahin sama den Sarif, papanya non?”</p>
<p class="MsoNormal">“Tapi Nana pengen melihara kucing ini. Lihat dech, lucu kan wajahnya?” kata Nana sambil menunjukkan kucing itu.</p>
<p class="MsoNormal">Lucu memang, piker mbok Onah. Bulunya berwarna putih kecuali di seputar mata kanannya berwarna abu-abu belang. Melihat wajah polos nan lugu yang menatapnya memelas itu rasanya mbok Onah tak tega untuk menolak tapi jika mengingat kalo majikan laki-lakinya begitu alergi dengan bulu hewan,</p>
<p class="MsoNormal">“Ya mbok? Bantuin Nana merawat Timmy!” rengek Nana.</p>
<p class="MsoNormal">Mbok Onah tak tega untuk menolak. Apalagi Nana telah memberi nama pada kucing itu. Wanita paruh baya itu lalu memeras otak mencari solusi agar bisa menolong majikan kecilnya tanpa di ketahui oleh pak Sarif, papanya Nana.</p>
<p class="MsoNormal">“Ya sudah mbok bantuin tapi non harus janji dulu?“ ucap mbok Onah akhirnya.</p>
<p class="MsoNormal">“Bener mbok mau bantuin? Asiiikkk…Nana harus janji apa mbok? Pasti deh Nana tepati.” jawab Nana kegirangan sambil menggelayut manja.</p>
<p class="MsoNormal">“Pertama, Tammy hanya boleh..”</p>
<p class="MsoNormal">“Mbok, namanya Timmy bukan Tammy!” tukas Nana meralat.</p>
<p class="MsoNormal">“Oh iya, Timmy harus tinggal di halaman belakang dan tidak boleh masuk rumah. Apalagi masuk ke kamar atau ruang kerja tuan. Kedua, non Nana harus merawat dan mengawasi Timmy setiap hari, nggak boleh terlambat apalagi lupa kasih makan. Setuju?”</p>
<p class="MsoNormal">“Setuju!!!” sahut Nana.</p>
<p class="MsoNormal">“Satu lagi non,” sambung mbok Onah.</p>
<p class="MsoNormal">“Apalagi mbok?”</p>
<p class="MsoNormal">“Non hanya boleh mengajak bermain Timmy di teras belakang, nggak boleh di depan!”</p>
<p class="MsoNormal">“Siap boss!” jawab Nana jenaka.</p>
<p class="MsoNormal">Setelah sepakat, keduanya lalu menuju ke halaman belakang dan menyembunyikan Timmy di dekat gudang. Mereka letakkan pula sebuah kardus berisi kain bekas untuk Timmy tidur. Dengan riang Nana bermain-main dengan Timmy. Mbok Onah dengan setia mengawasi majikan kecilnya itu dari kejauhan sambil berjaga-jaga kalo pak Sarif datang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">***</p>
<p class="MsoNormal">Tak terasa sudah satu minggu Timmy tinggal di rumah itu. Mbok Onah mulai khawatir karena sesekali Timmy mengeong di bawah jendela dapur. Majikannya, pak Sarif pun mulai sering bersin-bersin. Untungnya pak Sarif mengira beliau terkena flu dan tak begitu mrnghiraukan suara Timmy. Minggu ini nyonya Sarif juga jarang ke halaman belakang mengurus beberapa tanaman kesayangannya karena sibuk dengan bisnis barunya.</p>
<p class="MsoNormal">Seperti biasa sepulang sekolah Nana bermain dengan Timmy di teras belakang. Sedangkan mbok Onah sibuk dengan baju-baju setrikaan. Tiba-tiba bel berbunyi, dua orang teman sekelas Nana berdiri di balik pintu sambil berteriak-teriak.</p>
<p class="MsoNormal">“Nana….Nana….ayo main!!” teriak mereka bebarengan.</p>
<p class="MsoNormal">Nana yang mendengar panggilan itu bergegas keluar menemui teman-temannya. Ia tinggalkan Timmy begitu saja.</p>
<p class="MsoNormal">“Hey Susan, Doli, mau main apa?” tanya Nana begitu mereka telah berkumpul di teras depan.</p>
<p class="MsoNormal">“Gimana kalau kita main Sang Putri aja, aku bawa bedaknya mama,” usul Doli.</p>
<p class="MsoNormal">“Ayo!!” sahut yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Ketiga gadis kecil itu bermain dengan riang. Nana yang terpilih menjadi Sang Putri tampak antusias saat Doli dan Susan mendandaninya. Nana lupa bahwa ia belum memberi makan Timmy dan mengembalikannya ke dekat gudang.</p>
<p class="MsoNormal">Di teras belakang Timmy mulai mengeong. Kucing itu melompat masuk dapur melalui jendela. Piring-piring kotor bekas dipakai sarapan tadi pagi menjadi sasaran lidah Timmy. Tak cukup dengan apa yang didapatkannya, Timmy lalu menjelajahi setiap sudut untuk mendapatkan makanan. Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Timmy hingga waktu pak Sarif dan istrinya pulang.</p>
<p class="MsoNormal">“Haatsyyyyy….haatsyyyyy…..haaatsyyyyy…..”</p>
<p class="MsoNormal">Dari dalam ruang kerjanya, terdengar pak Sarif bersin-bersin. Tak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali.</p>
<p class="MsoNormal">“Haaatsyyy..haatsyyy….”</p>
<p class="MsoNormal">“Papa kenapa? Sakit flu?” tanya istrinya sambil tergopoh-gopoh dari ruang makan.</p>
<p class="MsoNormal">“Entahlah ma, tapi…haatsyy….haaatsyyyyy…” jawab pak Sarif sambil terus bersin.</p>
<p class="MsoNormal">Mendengar majikannya terus bersin-bersin tak terkendali, bergegas mbok Onah ke halaman belakang. Ia ingin memastikan bahwa ketakutannya tak terbukti. Betapa terkejutnya mbok Onah ketika tak didapatinya Timmy di kardusnya. Lalu dicarinya Nana.</p>
<p class="MsoNormal">“Non? Timmy kemana?” tanya mbok Onah setengah berbisik.</p>
<p class="MsoNormal">“Apaan sich mbok, gangguin Nana aja. Nana kan lagi baca komik,” sahut Nana kesal.</p>
<p class="MsoNormal">“Non, dengerin mbok, Timmy nggak ada di kardusnya dan papanya non sekarang sedang bersin-bersin.” jelas mbok Onah.</p>
<p class="MsoNormal">Nana menatap mbok Onah seraya memperhatikan apa benar papanya sedang bersin-bersin. Bergegas Nana keluar kamar dan mengintip ke ruang kerja pak Sarif.</p>
<p class="MsoNormal">“Aduuh..lebih baik papa segera minum obat. Masih kan obat alerginya?” terdengar suara mamanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Papa yakin ada hewan di rumah ini Ma, kemarin papa seperti mendengar suara kucing di dekat dapur.” ucap pak Sarif saat bersinnya mereda.</p>
<p class="MsoNormal">“Masa sich Pa? mama nggak denger, mungkin perasaan papa saja?” sanggah istrinya.</p>
<p class="MsoNormal">Dari balik pintu Nana mulai ketakutan, jangan-jangan papanya tahu kalau ia diam-diam menyembunyikan Timmy. Di belakangnya, mbok Onah mulai cemas. Tuannya pasti akan marah besar kalo sampai menemukan kucing itu. Nana kembali mengintip, saat itulah ia lihat Timmy sedang berbaring di bawah lemari buku.</p>
<p class="MsoNormal">“Mbok, Timmy ada di dalam,” bisiknya.</p>
<p class="MsoNormal">“Dimana non?”</p>
<p class="MsoNormal">“Di bawah lemari buku, gimana ngambilnya Mbok?” tanya Nana. Matanya mulai berkaca-kaca hampir menangis.</p>
<p class="MsoNormal">Dari dalam ruangan terdengar mama bergumam,</p>
<p class="MsoNormal">“Sebaiknya papa istirahat di kamar, besok kita bahas lagi,” saran mama.</p>
<p class="MsoNormal">“Papa pikir juga begitu tapi papa mau menengok Nana dulu.” terdengar suara papa beriringan dengan langkahnya mendekati pintu.</p>
<p class="MsoNormal">Bergegas Nana menuju kamarnya dan berpura-pura telah tertidur. Papa yang tidak menyadari kepura-puraan itu mencium lembut kening Nana sebelum kemudian bersin lagi. Nana menjadi merasa bersalah karena telah melanggar larangan papa untuk tidak membiarkan hewan masuk rumah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal">Siang itu di teras belakang Nana tengah bermain dengan Timmy. Di sampingnya ada sebuah kotak kardus bekas air mineral. Kotak kardus itu didapatkannya dari warung di ujung jalan.</p>
<p class="MsoNormal">“Timmy, maafin Nana ya. Bukannya Nana nggak sayang Timmy tapi Nana lebih sayang sama papa. Nana nggak mau papa bersin-bersin terus.” ujar Nana sambil mengelus kepala Timmy kemudian memasukkannya ke dalam kardus.</p>
<p class="MsoNormal">Satu per satu bulir bening airmata Nana mengalir. Timmy seolah mengerti maksud Nana mengeong lirih sambil menjilat lembut tangan Nana.</p>
<p class="MsoNormal">“Semoga Timmy dapat teman yang baik ya!” harap Nana.</p>
<p class="MsoNormal">Tanpa Nana sadari papa telah berdiri di balik pintu menyaksikan adegan itu. Papa sangat terharu melihat pengorbanan Nana. Papa tahu, sudah lama Nana ingin punya hewan peliharaan tapi karena takut alerginya kambuh, papa menolak keinginan itu. Sampai kemudian Nana berdiri hendak beranjak, ia pun keluar</p>
<p class="MsoNormal">“Nana?” panggil papa.</p>
<p class="MsoNormal">“Eh..oh..Papa..emm..Nana..” Nana tergagap melihat papanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Itu apa Na?” tanya papa pura-pura tidak tahu.</p>
<p class="MsoNormal">“Eh..ini..ini…emm..” Nana menunduk dalam-dalam mencari jawaban atas pertanyaan papa. Haruskah ia berbohong? pikir Nana.</p>
<p class="MsoNormal">“Kamu yang bawa kucing ke rumah?” tanya papa kemudian.</p>
<p class="MsoNormal">“Maafkan Nana Pa, Nana kasihan lihat Timmy di tempat sampah jadi..”</p>
<p class="MsoNormal">“Jadi yang menyebadkan alergi Papa kambuh adalah kucing itu?” tukas papa.</p>
<p class="MsoNormal">“Maafin Nana Pa dan Papa nggak usah khawatir, kucing ini akan Nana kembalikan ke tempat sampah kok,” sahut Nana. Sedih sekali hatinya harus berpisah dengan Timmy.</p>
<p class="MsoNormal">“Nana sayang sama kucing ini?” tanya papa</p>
<p class="MsoNormal">“Sayang, eh..tapi Nana lebih sayang Papa kok, swear dech!” kata Nana sambil mengangkat dua jarinya.</p>
<p class="MsoNormal">Papa lalu mengambil kardus berisi Timmy dan meletakkannya sedikit menjauh. Lalu dipeluknya putrid semata wayang itu. Dibisikkannya sesuatu ke telinga Nana,</p>
<p class="MsoNormal">“Nana boleh kok pelihara kucing,” bisik papa.</p>
<p class="MsoNormal">Nana terkejut dan melepaskan pelukan papa. Ditatapnya papa lekat-lekat kemudian berkedip-kedip tak percaya.</p>
<p class="MsoNormal">“Lalu bersinnya Papa?” tanya Nana masih tak percaya</p>
<p class="MsoNormal">“Nanti Papa akan pesankan kandang, biar kucingnya nggak kemana-mana,”</p>
<p class="MsoNormal">“Bener Pa?” tanya Nana seakan tak percaya papa akan mengijinkannya<span> </span>memelihara kucing.</p>
<p class="MsoNormal">“Timmy, kamu boleh tinggal disini,,” teriak Nana.</p>
<p class="MsoNormal">Papa tersenyum dan mengangguk. Dengan manja Nana memeluk erat papanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=52&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2008/04/09/timmy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:slNfuPqCjR-bdM:http://bp0.blogger.com/_FZrpjohmtC0/Re6CaeOnJpI/AAAAAAAAABU/RZPcPKthGUI/s320/kucing%2Bsmile.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pertama Jumpa</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2008/02/13/pertama-jumpa/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2008/02/13/pertama-jumpa/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Feb 2008 03:30:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[“Dek, ini dari kakak yang berkaos hitam,” kata seseorang seraya menyerahkan sesuatu kepadaku.
“Ooohh….terima kasih.” jawabku.
Kucari sosok yang dimaksud, namun terhalang beberapa temannya. Tiba-tiba mereka yang menghalangiku menyingkir. Seorang cowok tinggi, bertopi, dan berkacamata berdiri menunduk. Wajahnya diangkat seraya tersenyum simpul. Deg!!! Sesaat aku terpaku, lalu kubalas senyumnya. Kak Haris??? Cowok yang selama ini hanya berbincang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=34&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">“Dek, ini dari kakak yang berkaos hitam,” kata seseorang seraya menyerahkan sesuatu kepadaku.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">“Ooohh….terima kasih.” jawabku.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">Kucari sosok yang dimaksud, namun terhalang beberapa temannya. Tiba-tiba mereka yang menghalangiku menyingkir. Seorang cowok tinggi, bertopi, dan berkacamata berdiri menunduk. Wajahnya diangkat seraya tersenyum simpul. Deg!!! Sesaat aku terpaku, lalu kubalas senyumnya. Kak Haris??? Cowok yang selama ini hanya berbincang melalui dunia cyber kini, berdiri di hadapanku. Aku jadi salah tingkah saat dia memandangku. Dia terlihat lebih keren dan lebih manis jika dibandingkan wajahnya yang selama ini aku lihat di foto.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i>Pandangan pertama awal aku berjumpa</i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i>Seolah-olah hanya, impian yang berlalu</i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i>Sungguh tak kusangka dan rasa tak percaya</i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i>Cowok setampan dia, datang menghampiriku</i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><i>…………………………………………………</i></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;">Terdengar lantunan sebuah lagu dari arah panggung pentas seni, mengiringi langkahku meninggalkan acara pentas seni ini. Di tanganku <span> </span>seranting daun tanjung dari kak Haris tergenggam kemudian aku tinggalkan di sebuah sudut teras. Masa iya, aku pulang sambil menenteng ranting???</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=34&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2008/02/13/pertama-jumpa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Begini?***</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2007/12/13/mengapa-begini/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2007/12/13/mengapa-begini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 04:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/2007/12/13/mengapa-begini/</guid>
		<description><![CDATA[“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan???” tanyaku ketika kami telah berada di ujung koridor.
 
Kudengar tarikan nafas berat tertahan. Kupastikan apa yang akan dibicarakannya adalah mengenai Chandra. Tiba-tiba dia berbalik. Ada semburat amarah di wajahnya. Kurasakan amarah yang meledak-ledak dalam diri gadis tomboy ini.
 
“Apa yang udah kamu lakukan pada Chandra?” teriaknya sambil mencengkeram krah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=33&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Baiklah, apa yang ingin kamu bicarakan???” tanyaku ketika kami telah berada di ujung koridor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Kudengar tarikan nafas berat tertahan. Kupastikan apa yang akan dibicarakannya adalah mengenai Chandra. Tiba-tiba dia berbalik. </span><span>Ada</span><span> semburat amarah di wajahnya. Kurasakan amarah yang meledak-ledak dalam diri gadis tomboy ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Apa yang udah kamu lakukan pada Chandra?” teriaknya sambil mencengkeram krah kemejaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Apa maksudmu Fi??”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Sudahlah, nggak usah pura-pura!! Kamu pasti tau maksudku.”jawabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Lalu dia mendorongku hingga aku jatuh membentur tembok. Aku mencoba bangkit. Ingin aku membalasnya, tapi apalah gunanya meladeni orang yang sedang panas hatinya. Beberapa orang yang lewat memperhatikan kami. Entah apa yang terbersit dalam pikiran mereka tentang kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kamu tahu, semalaman aku menjaga Chandra, duduk disampingnya, mencoba berbicara padanya? Tapi apa yang terjadi ketika dia siuman tadi malam?” teriaknya kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Bukan aku yang pertama kali dia sebut namanya, tapi kamu!!!!” lanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Maaf Fi, tapi aku nggak ngerti kenapa begini!!” jawabku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Nggak mungkin kamu nggak ngerti, dasar cewek penggoda!!!” Makinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kok kamu ngomong…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Diam!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Dia memutus kalimatku. Tangannya terangkat ke atas hendak menamparku. Mataku terpejam, bersiap menerima tamparannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Apa-apaan kalian ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Sebuah suara terdengar diantara kami. Aku membuka mataku dan kulihat Rasky tengah menahan tangan Lufi yang hampir mendarat di pipiku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kalian nyadar nggak sih, kalo Chandra disana lagi ngregang nyawa?” kata Rasky. Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya ditujukan pada Lufi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Gara-gara cewek sialan ini nih!!” Lufi nyolot lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Udah deh Fi, kamu jangan kayak anak kecil gini!! Mending sekarang kita ke ruang ICU, Chandra udah mau dipindah kamar” sambung Rasky.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Menurut dokter kondisi Chandra sudah stabil. Tak perlu lagi dirawat di ruang ICU, tapi cukup di kamar perawatan umum. Kata dokter ini sebuah keajaiban karena Chandra mampu melalui masa kritis dalam waktu yang relatif singkat. Kami semua jelas berbahagia atas hal itu, meskipun di sisi lain kami harus menerima kenyataan bahwa kaki Chandra mengalami keretakan tulang sehingga harus istirahat total selama dua bulan. Sungguh tak terbendung rasa bersalahku atas apa yang menimpa Chandra. Setiap hari selalu kuluangkan waktu ku untuk mnejenguk Chandra. Baik ketika masih dirawat di Rumah Sakit ataupun ketika telah berada di rumah. Untuk menemaninya jalan-jalan membunuh kebosanan atau hanya sekedar ngobrol di rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Waktu terus berlalu, dua bulan pun berlalu. Selama waktu itu aku, Rasky, Seno, Tia, dan Rachel senantiasa menemani dan menjaga Chandra. Tak terkecuali Lufi, meski tak setiap hari dia datang. Selama itu pula bendera perang dingin yang dia kibarkan senantiasa melambai-lambai padaku. Setiap kali aku mencoba mengajaknya berdamai dia selalu menolak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Seperti sore-sore sebelumnya, aku dan yang lainnya datang kerumah Chandra. Kalau hari-hari kemarin kami datang untuk mengajak Chandra jalan-jalan di taman di ujung kompleks. Tapi kali ini kami akan menemani Chandra ke Rumah Sakit melepas gib di kakinya. Ketika memasuki halaman, terdengar pertengkaran Chandra dengan Lufi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“………jadi kamu lebih memilih cewek kemarin sore itu daripada aku?” teriak Lufi ditengah derai isak tangisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Iya!!!” jawab Chandra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Ya udah kalau itu maumu, kita putus sekarang!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Terdengar pintu dibanting dan terlihat Lufi keluar. Dia menangis, tentunya<span>  </span>dia sangat terguncang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Plakk!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kananku saat berpapasan dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Puas kamu!!! teriaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Ia lalu pergi begitu saja meninggalkan rumah Chandra. Aku hanya bias mengelus-elus pipiku yang terasa begitu panas akibat tamparan Lufi. Sedangkan Seno, Tia, dan Rachel hanya melongo menyaksikan adegan tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kenapa sich Chan? Kenapa kamu lakukan itu pada Lufi??” tanyaku suatu sore.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Sore itu seperti biasa aku dan yang lainnya ada di taman. Seno, Rasky, Tia dan Rachel sedang main basket di lapangan sebelah taman. Sedangkan Chandra menemaniku memainkan jemari di atas keyboard laptop.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kenapa apanya Lin?” jawabnya justru balik bertanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kenapa kamu putus sama Lufi? Bukankah kalian masih saling sayang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Siapa bilang aku masih sayang dia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Udah deh, nggak usah bo’ong, kamu masih sayang dia </span><span>kan</span><span>?” desakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Chandra tak menjawab, dia justru membuang mukanya. <span> </span>Sebuah nafas berat dikeluarkannya dengan paksa. Dia memandangku, mengarahkan wajahku ke wajahnya, memaksaku menatap matanya. Begitu tajam ia memandang mataku hingga terasa menusuk ke dalam relung hatiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Aku ingin menjagamu, menjaga hati dan jiwamu.” katanya kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Apa maksud kamu?” tanyaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Dia berdiri, berjalan beberapa langkah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kamu ingat ketika aku koma di rumah sakit?” tanyanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Iya aku ingat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Waktu itu aku merasa sedang berjalan entah dimana. Di sekelilingku gelap tapi ada banyak titik cahaya. Aku kebingungan, sampai akhirnya aku mendengar sebuah suara memanggilku. Aku mengenali suara itu. Aku mencari sumber suara sambil terus memanggil nama pemilik suara itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>tutur Chandra. Lalu dia kembali duduk di sampingku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Kamu tahu itu suara siapa?”tanyanya. Aku hanya menggeleng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Itu suara kamu!! dan ketika aku sadar dan menyadari apa yang terjadi, dalam hati aku berjanji bahwa aku akan menjagaku dengan segenap jiwaku. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa darahmu kini mengalir dalam tubuhku.” lanjutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Damn!!! Aku benar-benar shock mendengar penuturannya. Aku tak tahu mesti bagaimana. Aku tak mengerti mengapa jadi begini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>=====</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Hey!!! Bengong?”<span>  </span>suara Dilan mengagetkanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Yeee…sirik!!! Yang namanya nulis cerpen </span><span>kan</span><span> mesti sambil ngelamun!?” jawab Retno sewot.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>“Iya tau, tapi nggak liat apa tu dosen dah melenggang kemari? Mau masuk atau disitu aja? Mau kena skors?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span>Ku simpan file cerpenku lalu ku tutup laptopku. Aku melenggang masuk kelas bersiap mengikuti kuliah Bahasa Jerman yang begitu membosankan bagiku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=33&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2007/12/13/mengapa-begini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengapa Begini???*</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2007/11/22/belum-berjudul/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2007/11/22/belum-berjudul/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Nov 2007 03:40:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/2007/11/22/belum-berjudul/</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini begitu panas. Matahari seolah-olah ingin menghanguskan, meluluh lantahkan bumi. Kuseka peluh yang membasahi pelipisku. Ya Tuhan..!!kirimkanlah sedikit saja angin yang semilir. Aaahh&#8230;seandainya saja tadi ada yang menjemputku seperti biasanya. Kemana mereka hari ini ? Chandra? Seno? Rasky? Rachel? Aduh..kemana kalian? Eits..jangan mikir yang bukan-bukan dulu, mereka itu teman sekomplekku. Tapi aku menganggap mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=29&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Siang ini begitu panas. Matahari seolah-olah ingin menghanguskan, meluluh lantahkan bumi. Kuseka peluh yang membasahi pelipisku. Ya Tuhan..!!kirimkanlah sedikit saja angin yang semilir. Aaahh&#8230;seandainya saja tadi ada yang menjemputku seperti biasanya. Kemana mereka hari ini ? Chandra? Seno? Rasky? Rachel? Aduh..kemana kalian? Eits..jangan mikir yang bukan-bukan dulu, mereka itu teman sekomplekku. Tapi aku menganggap mereka seperti kakakku sendiri secara mereka memang lebih tua dariku. Meski begitu aku bukan yang terkecil lho, masih ada Tia, dia juga adik kelasku di SMA. Kalau saja tadi Tia nggak ada jam tambahan, aku nggak perlu jalan sendirian untuk pulang. Kucoba menghubungi mereka dengan ponsel tapi nggak ada yang tersambung. Seno? Rasky? Rachel? Aduuh kenapa sih dengan ponsel kalian?? Ok yang terakhir, Candra. Tuut…tuut…”Halo Lin..!” kudengar balasan dari seberang. “Chan..kamu di…” tuut..tuut… Aaargh..terputus….pasti dia lagi sama ceweknya, huuh..sebel!!! Hey!! nggak semestinya aku mengeluh seperti ini, yang semestinya aku lakukan adalah mempercepat langkahku untuk sampai di halte. Naik angkot turun di terminal lalu jalan kaki sejauh 500m untuk sampai rumah. Huuh..panas-panas begini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Beruntunglah sampai di halte sudah ada angkot yang menanti. Tak perlu aku lama-lama menunggu. Menit pun berlalu, kini aku sudah ada di terminal. Kuayunkan langkahku bergegas. Sayup-sayup dari arah belakang aku dengar suara sepeda motor dan sepertinya aku kenal dengan suara ini,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Sory Lin, telat jemput, tadi aku ke Rumah Sakit dulu,!?” teriak Seno yang masih nangkring di atas Smash merah kesayangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Hah!! ke Rumah Sakit? Siapa yang sakit?” sahutku. Tadinya aku mau marah tapi nggak jadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Chandra, dia kecelakaan tadi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Ya ampun, parah nggak lukanya? Sekarang ke Rumah Sakit yuk!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Tanpa komando aku langsung naik ke boncengan Seno. Aku benar-benar mengkhawatirkan Chandra. Apalagi selama ini </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">kan</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> dia paling anti dengan yang namanya rumah sakit dan obat. Kalaupun terpaksa ke Rumah Sakit itu juga cuma untuk jenguk teman atau saudara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Kamu nggak pulang dulu? Ganti baju atau makan dulu? Atau setidaknya ijin dulu sama orang rumah !?” tanya Seno seraya menstarter motornya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Nggak usah, ntar ijinnya lewat sms aja. Udah sekarang ke Rumas Sakit !!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">**********?????**********</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Selesai parkir aku dan Seno langsung menuju ke ruang ICU. Tadi waktu aku telepon Rasky, katanya Chandra masih dirawat di ICU, masih belum sadar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Di depan ruang ICU sudah ada orang tua Chandra, Rasky, dan Rachel. Rasky kelihatan panik banget bagaimana tidak, Chandra itu adiknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Gimana keadaan </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Chandra</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">, </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Ky</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">?” tanyaku sambil duduk disebelah Rasky.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Belum tahu Lin, dokter masih ada di dalam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Kamu yang sabar ya Ky,” ku tepuk pundak Rasky dan ia hanya mengangguk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Tadi kejadiannya gimana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kudengar tarikan nafas berat Rasky. Sepertinya ia berusaha menenangkan diri sebelum menjawab pertanyaanku. Di depan kami Om Ruslan mondar-mandir tak sabar menunggu dokter. Tentu beliau lebih panik dari kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Tadinya kita mau jemput kamu dan Tia rame-rame. Hari ini </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">kan</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> ulang tahunnya Chandra, jadi dia mau traktir kita makan. Pas nyampe di tikungan, dia ngeluarin hp mungkin ada telepon. Dia nggak lihat kalau didepannya ada lubang. Sampai akhinya dia terlempar dari motor.” tutur Rasky.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Apa!!! dia nerima telepon??tadi aku sempat telepon Chandra, jangan-jangan&#8230;” Aku tak mampu meneruskan kalimatku. Seluruh persendianku lemas. Rasanya seluruh tulangku rontok, tak lagi menyangga tubuhku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Berarti Chandra jatuh karena aku? kalau saja aku tadi lebih bersabar, hal ini mungkin nggak akan terjadi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">”Sudahlah Lin, mungkin ini sudah menjadi kehendakNya..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku benar-benar menyesal. Rasa bersalah<span>  </span>benar-benar menghantuiku. Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu dengan Chandra. Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka. Seorang pria berkacamata dan mengenakan jas putih keluar diikuti seorang wanita berseragam putih pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Keluarga Chandra Purnama Sudrajat?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Saya ayahnya Dok. Bagaimana anak saya?” tanya Om Ruslan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kamipun segera mendekat tak mau ketinggalan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Begini, pasien kehilangan banyak darah dan persediaan darah untuk golongan darah B di Rumah Sakit ini habis. Sebaiknya segera mencari pendonor!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Maaf Dok, golongan darah saya B, apa saya bisa jadi pendonor? Oh ya ini kartu pendonor saya.” kataku sambil menunjukkan kartu donor darahku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Ooh tentu saja asal kamu memenuhi syarat, kalau begitu jangan sia-siakan waktu. Mari ikut saya, kita adakan pemeriksaan!!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku mengikuti dokter dan perawat itu. Begitu pula dengan Rasky dan Seno sedangkan Rachel menemani Tante Ruslan yang sedari tadi menangis sesenggrukan. Kami memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan nuansa putih. Bau obat di ruang ini menusuk hidung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Suster tolong lakukan check darah..!?” perintah dokter itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Baik Dok.., mari Mbak ikut saya!!” kata suster.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku mengikuti suster itu ke bagian dalam ruangan tersebut. Rasky dan Seno menungguku sambil berbincang dengan dokter tadi. Mulai dari menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, sampai check Hb semua aku jalani. Sekarang tinggal menunggu hasilnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Permisi Dok, ini hasil check darahnya.” kata suster sambil menyerahkan sebuah map.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Oh ya, terima kasih Suster..!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Baiklah saudara Lintang, berdasarkan hasil pemerikasaan anda memenuhi syarat untuk menjadi pendonor. Sebaiknya kita segera melakukan tranfusi!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Kami menuju unit tranfusi yang letaknya disebelah ruang ICU. Tampak dari ruang tranfusu, Chandra terbujur lemas tak berdaya di ruang ICU. Matanya terpejam namun wajahnya tampak tenang. Kepalanya dibalut perban tebal, di lengan kanannya ada beberapa luka ringan. Semakin besar rasa bersalahku padanya. Chandra maafkan aku. Kurasakan ada yang menepuk pundakku, ternyata Seno. Dia lalu mengantarku ke sebuah ranjang di samping ranjang Chandra. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Kamu yakin Lin?” tanya Seno </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Aduh Seno&#8230;ini </span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">kan</span><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> bukan hal baru buatku!?” jawabku meyakinkan. Jujur, meski ini bukan yang pertama buatku, tapi aku gugup juga. Aku gugup karena ini menyangkut nyawa sahabatku. Aku berharap apa yang aku lakukan ini bisa sedikit menebus kesalahanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Aku berbaring, lalu seorang suster memasangkan sebuah tensimeter di lenganku. Aaaww!! aku meringis kecil saat sebuah jarum menembus sempurna kulitku. Detik berubah menjadi menit dan menit demi menit pun berlalu. Sedikit demi sedikit kantung itu terisi dan akhirnya, selesai. Suster mencabut selang di lenganku serta melepas tensimeter. Disodorkannya semangkuk bubur ayam, segelas susu, sebutir telur, dan beberapa lembar biscuits diatas sebuah nampan. Namun ketika aku hendak bangun untuk menerima nampan itu, tiba-tiba semuanya gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">**********?????*********</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:0.75in;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Disana, didepan pintu kulihat Chandra berjalan keluar. Kemudian ia membalikkan badannya dan menatapku sambil tersenyum. Aku bingung melihatnya. Bukankah dia tadi terbaring di ranjang masih belum sadar? Lalu kenapa sekarang dia berjalan keluar? Dengan baju yang terkesan asing olehku, baju dengan warna serba putih. Dia melambaikan tangannya padaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Chandra, kamu mau kemana?” teriakku memanggilnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Aku mau pergi, Lintang” jawabnya lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Nggak!!! kamu nggak boleh pergi, kamu harus tetap disini!!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Nggak Lintang, aku harus pergi.” katanya sambil menatap keluar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Tapi kamu mau pergi kemana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Ke tempat dimana tak ada orang yang bisa menggangguku, tempat dimana sayap kedamaian menaungi setiap waktuku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">“Chandra!!! kamu nggak boleh pergi, Chan&#8230;Chandraa&#8230;!” aku terus berteriak namun Chandra tak menghiraukanku. </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=29&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2007/11/22/belum-berjudul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taman Kota Sore Itu</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2007/11/02/cerpen-2/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2007/11/02/cerpen-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Nov 2007 03:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/2007/11/02/cerpen-2/</guid>
		<description><![CDATA[
Sore itu, dibawah payung langit sore, di sebuah bangku di sudut taman kota, seorang wanita sedang duduk sendiri. Namanya Fina, usianya kira-kira 22 tahun. Sudah satu jam ia disana dan entah sudah berapa kali ia melihat jam tangannya sesering ia berusaha menghubungi sederet nomor di ponselnya. Ia sedang menunggu sahabatnya, Rendy. Tiba-tiba di hadapannya berdiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=18&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:130%;"><span style="font-weight:bold;"></span></span></p>
<p>Sore itu, dibawah payung langit sore, di sebuah bangku di sudut taman kota, seorang wanita sedang duduk sendiri. Namanya Fina, usianya kira-kira 22 tahun. Sudah satu jam ia disana dan entah sudah berapa kali ia melihat jam tangannya sesering ia berusaha menghubungi sederet nomor di ponselnya. Ia sedang menunggu sahabatnya, Rendy. Tiba-tiba di hadapannya berdiri seorang laki-laki pemilik nomor tersebut.</p>
<p>“Sory telat, macet tadi” kata laki-laki itu memecah keheningan.<br />
“Ada apa kok tumben ngajak ketemuan disini, nggak ditempat biasanya? Mendadak lagi.” lanjutnya.<br />
“Gue hamil Ren,”ungkap Fina.</p>
<p>Deg. Seolah jantung Rendy berhenti berdetak. Bahkan angin senja pun seolah berhenti berhembus.<br />
Rendy terduduk lemas disamping Fina. Ia tak mampu berkata-kata. Ia benar-benar shock dengan apa yang Fina katakan. Ia tak menyangka ini hal ini akan terjadi. Mereka telah bersahabat sejak lama. Bahkan Fina menganggap Rendy seperti kakaknya sendiri. Selama ini hubungan mereka murni persahabatan, tanpa keinginan untuk merubah status mereka. Dan malam itu, persahabatan mereka ternoda oleh sesuatu yang terlarang. Semua terjadi begitu cepat.</p>
<p>“Hanya ada dua pilihan Ren, tanggungjawab atau lupakan.” lanjut Fina<br />
“Gue pasti bertanggung jawab Fin, tapi&#8230;”<br />
“Kenapa? Soal keyakinan?kalau memang loe berniat untuk bertanggung jawab, loe ikut keyakinan gue.”<br />
“Lalu ayah ibu gue?saudara-saudar gue?”<br />
“Terserah loe Rendy. Kalau loe nggak mau ikut gue, sebaiknya lupain gue dan anak kita untuk selamanya dan jangan pernah mengaku sebagai ayahnya.”</p>
<p>Hening. Semua terdiam. Fina tahu Rendy bingung berada diantara dua pilihan besar. Tapi Fina tak ingin menambah dosanya dengan meninggalkan keyakinan yang dianutnya selama ini. Lalu ia berdiri, bersiap untuk pergi.</p>
<p>“Pikirkan baik-baik Ren, gue tunggu keputusan loe besok sore di tempat ini.”<br />
Fina pun berlalu, menembus senja yang kian temaram. Kini Rendy sendirian. Hatinya kalut, ia bingung, dan pikirannya kacau. Ia tak mampu berpikir jernih sekarang.</p>
<p>@@@</p>
<p>Hari ini adalah penentuan nasib Fina dan bayi tak berdosa di rahimnya. Di sampingnya sebuah koper besar menemani dan menjadi saksi bisu. Di bangku yang sama ia kembali duduk dalam cemas. Fina sudah memutuskan kalau Rendy tak datang atau tak mau bertanggung jawab, maka ia akan pergi meninggalkan kehidupannya sekarang dan memulai kehidupan barunya di suatu tempat dimana tak ada orang yang mengenalinya. Menit demi menit pun berlalu. Sudah hampir dua jam ia disana menanti sebuah kepastian dari Rendy. Sengaja ia matiken ponselnya karena ia tak ingin mendengar keputusan Rendy hanya dari ponsel.<br />
Setelah dua jam menanti, ia putuskan untuk pergi. Baginya ketidak hadiran Rendy sama artinya Rendy memilih pilihan kedua, yakni memilih untuk melupakannya dan bayinya. Dengan hati yang hancur Fina melangkah menuju mobilnya, meninggalkan taman itu, kota itu, dan seluruh kenangannya termasuk Rendy.<br />
Angin bertiup perlahan menerbangkan daun-daun kering yang berserakan. Mengiringi langkah Fina menuju hidup barunya yang tentunya lebih berat.</p>
<p>@@@</p>
<p>3 Tahun Kemudian<br />
Sebuah mobil Honda Jazz warna hijau berhenti di depan sebuah taman. Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita. Ia berjalan memasuki taman kota. Tangan kanannya menggandeng seorang bocah berusia tiga tahun. Dialah Fina yang tiga tahun lalu datang ke taman ini dengan segudang kecemasan. Bocah yang digandengnya adalah sumber kecemasannya saat itu, anaknya, yang diberinya nama Rendy. Nama yang sama dengan nama ayah si bocah.<br />
Di sebuah bangku di sudut taman ia duduk. Dibiarkannya si bocah bebas bermain dengan bola kesayangannya, namun tak dibiarkannya keluar dari sudut matanya. Taman ini tak banyak berubah dibanding tiga tahun lalu, pikirnya. Fina mulai hanyut mengenang masa lalunya.</p>
<p>Ciiiiieeeettt&#8230;gubraaak..!!!<br />
Sebuah sedan hitam menabrak tong sampah di tepi taman. Fina kaget, pandangannya lalu menyapu seluruh penjuru taman. Ia mulai panik karena tak menemukan anaknya.</p>
<p>“Rendy&#8230;Rendy&#8230;.kamu dimana ..??”</p>
<p>Fina berteriak-teriak memanggil anaknya. Berlari kesana kemari, bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya. Tiba-tiba sebuah percakapan yang didengarnya menambar kekhawatirannya.</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan mobil sedan itu ya Bu..”tanya seorang wanita pada wanita yang di sebelahnya.<br />
“Itu mobil mau menghindari anak kecil yang lagi ngejar bola, eeh..banting setir kekanan dapat tong sampah deh,”sahut wanita yang satunya<br />
Tanpa pikir panjang lagi Fina berlari menuju kerumunan orang. Ia pun memanggil-manggil anaknya.<br />
“Rendy&#8230;Rendy&#8230;”<br />
Tak ada sahutan an Fina semakin panik.<br />
“Mama&#8230;” suara itu&#8230;<br />
Di belakangnya Rendy tersenyum di gendongan seorang pria. Segera ia menghampiri dan memeluk buah hatinya itu.</p>
<p>“Kamu nggak apa-apa kan sayang ?”<br />
“Om itu yang nolongin Rendy, Ma..”<br />
“Sory tadi gue terburu-buru dan gue hampir menabrak anak loe yang&#8230;..” pria itu tak melanjutkan kalimatnya. Ia tertegun melihat Fina. Begitu pula Fina, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pria yang berdiri di hadapannya itu&#8230;<br />
“Kamu..??” ucap Fina.<br />
“Iya Fin, ini gue Rendy.” pria itu mengaku<br />
“Lalu anak ini&#8230;”<br />
“Ini anakku, namanya Rendy.”<br />
“Anak kita, Fin?”<br />
“Kamu lupa, dulu aku pernah bilang tak ada tanggung jawab maka tak ada pengakuan..” tegas Fina<br />
Fina sudah berubah, pikir Rendy. Ia jadi wanita yang kuat. Tutur bahasanya pun sekarang sopan. Saat ini Rendy merasa yang dihadapannya ini bukanlah Fina yang dulu. Baginya Fina seperti orang asing.<br />
“Loe keliru Fin, hari itu gue datang tapi loe udah keburu pergi. Gue tahu kalau saat itu gue udah telat, tapi gue punya alasan kenapa gue telat. Ijinkan gue kasih penjelasan..?!please&#8230;”<br />
Dari dulu Fina tak pernah tega melihat Rendy memohon seperti itu. Fina mengangguk.<br />
“Hari itu gue udah berangkat. Waktu di jalan, gue lewat depan mesjid. Gue mikir alangkah baiknya kalau gue ketemu loe udah dalam keadaan mualaf. Ya udah akhirnya di mesjid itulah gue menyatakan keislaman gue. Ternyata di Mesjid itu gue hampir dua jam dan akibatnya gue telat ketemu loe.” tutur Rendy panjang lebar.</p>
<p>Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua mata Fina. Ia tak menyangka Rendy melakukan hal itu. Tak peduli semua mata yang memandang kearahnya, ia pun menghambur dalam pelukan Rendy. Dalam pelukan itu, Rendy membisikkan sesuatu pada Fina,<br />
“Will you marry me ?” bisik Rendy.<br />
Tak ada kata-kata yang dapat terlontar dari mulut Fina hanya anggukan mantap sebagai jawabannya.<br />
Kembali payung langit sore itu serta taman kota itu menjadi saksi bisu perjalanan mereka.</p>
<p>@@@</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=18&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2007/11/02/cerpen-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cintaku</title>
		<link>http://dhewie.wordpress.com/2007/09/25/cerpen/</link>
		<comments>http://dhewie.wordpress.com/2007/09/25/cerpen/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 05:16:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dhewie</dc:creator>
				<category><![CDATA[Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dhewie.wordpress.com/2007/09/25/cerpen/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Hari telah beranjak senja. Langit berwarna lembayung mengiringi matahari kembali ke peraduannya. Dari balik jendela samar kusaksikan semua keagungan Tuhan itu sambil melintas menjelajahi dunia imajiku.
Kau memang sahabatku&#8230;
Kau memang teman baikku&#8230;
Dan aku&#8230;jatuh cinta padamu&#8230;
&#160;
Aargh&#8230;kenapa lagu itu yang diperdengarkan? Aku merasa tersindir oleh lagu itu. Kuraih remote kontrol bermaksud merubah gelombang radio itu, tapi kuurungkan niatku. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=10&subd=dhewie&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0.2in;" align="left">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Hari telah beranjak senja. Langit berwarna lembayung mengiringi matahari kembali ke peraduannya. Dari balik jendela samar kusaksikan semua keagungan Tuhan itu sambil melintas menjelajahi dunia imajiku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kau memang sahabatku&#8230;</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kau memang teman baikku&#8230;</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Dan aku&#8230;jatuh cinta padamu&#8230;</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Aargh&#8230;kenapa lagu itu yang diperdengarkan? Aku merasa tersindir oleh lagu itu. Kuraih remote kontrol bermaksud merubah gelombang radio itu, tapi kuurungkan niatku. Peduli amat dengan lagu itu!! Kembali aku menjelajah ke dalam ruang imajiku.Tiba-tiba tanpa permisi, melintas seraut wajah dengan senyum mahalnya. Wajah itu, telah memenuhi ruang imajiku akhir-akhir ini. Rey, nama pemilik wajah itu. Sudah lama aku mengenalnya namun baru sekitar setahun terakhir ini aku dekat dengannya. Kedekatan kamipun terjadi tanpa sengaja. Aku, Anti, Rey, Aldi, Dilla, dan Raka telah bersahabat sejak lima tahun lalu. Dulu kita satu SMA cuma beda tingkat aja. Kemana-mana kami selalu berssama, nonton, shopping, jalan-jalan, pokoknya kemana aja. Saat itu serasa ada jarak yang terbentang antara aku dan Rey. Dia begitu pendiam, misterius, dan susah ditebak. Aku seperti tak mengenal dia. Sampai akhirnya suatu hari Rey memutuskan untuk kuliah Diploma tiga diluar kota. Dari sinilah kedekatan kami berawal. Berawal dari sekedar sms nitip salam buat anak-anak lain sampai akhirnya saling curhat. Tiga tahun Rey tinggal di luar kota, cuma pulang kalau lebaran. Setelah sekian waktu jarang ketemu, ternyata dia nggak berubah masih pendiam, misterius, dan susah ditebak. Tapi kita berdua jadi makin akrab. Rey juga sering main kerumah. Tanpa kusadari dia telah mencuri hatiku. Tiba-tiba handphone ku berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Rey :</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Halo cewek..! gi ngapain neh?</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Aaah..pesan khas milik Rey dan hanya Rey yang mengawali smsan dengan kalimat semacam itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Rara :</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>gi nyantai neh. Ada apa ?!</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Rey :</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Nggak koq cuma mau tanya kalo ntar aq maen kerumah boleh nggak??</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Rara :</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Tumben cuma mau maen aja pake minta ijin?? biasanya aja dateng nggak diundang pulang minta diantar, hehe..</em> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Rey :</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ya nggak apa-apa kan sekali-kali minta ijin, abis sekarang kamu sibuk banget, susah dihubungi lagi.. </em><span style="font-style:normal;"> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  </span><em>ya udah ya..sampe ketemu ntar malem ya cantik..!!</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Aneh..dia selalu bisa membuat hatiku melayang nggak karuan. Seperti kejadian beberapa hari yang lalu. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">***</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Hari itu aku benar-benar lagi suntuk, lagi banyak masalah. Seperti biasa aku dan anak-anak ngumpul di rumah Rey,sejak dulu rumah Rey selalu jadi basecamp kami. Sekedar ngobrol dan bercanda kesana kemari. Aku pun ikut nimbrung juga meski kadang diselingi ngelamun. Yang jelas aku berusaha menutupi kalau aku lagi ada masalah. Aku nggak mau anak-anak tahu masalahku. Tanpa aku sadari ternyata Rey memperhatikan sikapku. Tiba-tiba aja dia udah duduk disampingku dan membuyarkan lamunanku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kenapa Ra?kok nggak kayak biasanya?”</em><span style="font-style:normal;"> kata Rey sambil ngelus rambutku. Oh Tuhan..!jantungku berdegup kencang. Kenapa dia berbuat begitu? Gimana kalau anak-anak punya persepsi yang lain dengan pemandangan ini?</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Nggak kok, biasa aja lagi. Aku nggak kenapa-kenapa”</em><span style="font-style:normal;">jawabku meyakinkan dia.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Masa sih, jangan bo&#8217;ong!!kamu tuh nggak kayak biasanya. Pasti lagi ada masalah, cerita dong!!”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Bener aku nggak kenapa-kenapa kok. Perasaan kamu aja kali..”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Sungguh, Rey selalu tahu kondisi perasaanku dan aku selalu sulit untuk berbohong kepadanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Alah Rey..Rara emang suka gitu, suka sok misterius!” </em><span style="font-style:normal;">sahut Anti</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Paling-paling lagi patah hati..neh ada plester kalau mau!?” </em><span style="font-style:normal;">Aah..si Dilla ikut-ikutan nimbrung disusul gelak tawa anak-anak. Andai kamu tahu Rey, kalau aku emang lagi patah hati dan orang yang sudah buat aku patah hati adalah kamu.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Siapa sih yang bisa bikin Rara patah hati? Kalaupun iya, aku orang pertama yang dikasih tahu!!”</em><span style="font-style:normal;"> sambung Anti bersungut. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Kamu benar An, kamulah orang pertsama yang aku kasih tahu kalau aku ada masalah. Tapi tidak untuk masalahku yang satu ini, tentang perasaanku terhadap Rey. Biarlah aku sendiri menyimpannya. Mendengar hal itu Rey hanya tersenyum seperti biasa. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">***</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Benarkah aku telah jatuh cinta pada Rey? Benarkah aku telah melanggar prinsip persahabatan kami, dimana kami tidak boleh saling jatuh cinta? Aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan. Yang jelas aku merasa hatiku sangat perih ketika Rey bercerita bahwa dia sedang PDKT dengan teman kuliahnya dulu, namanya Keysha. Apa ini yang disebut orang “cemburu”? Bahkan aku sempat menangis karenanya. Ini pertsama kalinya aku punya perasaan semacam ini dan Rey adalah cowok pertsama yang bisa membuat aku menangis. Selama ini pula aku menganggap Rey seperti kakakku sendiri, semua tahu itu. Orang tuaku juga telah menganggap Rey dan yang lainnya seperti anak mereka sendiri.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ra&#8230;ada yang nyariin nih..!!”</em><span style="font-style:normal;"> teriak ibuku dari luar. </span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Entah sudah berapa lama aku melamun karena tanpa kusadari diluar bumi telah berpayung malam berhiaskan bintang-bintang. Anginpun membelai lembut rumput-rumput di taman.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;text-decoration:none;"> “<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ya..Bu..!!”</em><span style="font-style:normal;">sahutku seraya melangkah keluar.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Deg. Oh My God!! Aku lupa kalau Rey akan datang kerumah. Mana aku masih acak-acakan gini. Ya sudahlah mau gimana lagi. Sekarang  dia sudah didepanku tersenyum dengan senyuman termanis yang dimilikinya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Bangun tidur ya? Kusut samat..”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Nggak kok, cuma lagi males aja. Ada apa nih? Ada kabar apa?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kok nanya gitu? Ya ngapel lah malem mingguan gitu lho..he..he..!!</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ngapel?? nggak salah neh, rumah Keysha kan bukan disini.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Sapa juga yang mau ngapelin Keysha? Aku kan ngapelin kamu Ra, nggak boleh ya?? atau udah ada yang mau ngapel?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Iih..ni anak nyebelin banget sih. Tolong jangan perlakukan aku seperti ini. Jangan sampai lentera di hatiku menyala  semakin besar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Terserah deh kamu mau ngomong apa, asal bercandanya jangan kayak gitu. Aku nggak suka.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Sapa yang bercanda Ra? Aku serius ngapelin kamu kok.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Tuh kan mulai lagi, kalau kamu lanjutin mending kamu pulang aja!!”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Aku setengah berteriak karena aku benar-benar takut aku tak bisa mengintrol perasaanku. Akhirnya semua terdiam. Aku membisu begitu pula Rey. Tiba-tiba Rey menggeser duduknya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ra..!!”</em><span style="font-style:normal;">panggilnya lembut. Melumerkan emosi di hatiku.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Apa?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Sebenarnya cerita tentang Keysha hanya bo&#8217;ong belaka.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Apa maksud kamu Rey? Aku nggak ngerti..!”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Sebenarnya udah lsama Ra aku nyimpen perasaan ini. Aku suka ssama kamu Ra..!!”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Melayang. Aku merasa melayang ke angkasa mendengar Rey mengucapkan kalimat itu. Dalam hati aku berteriak kegirangan. Bintang-bintang di langit tampak semakin bersinar cerah. Rey meraih tanganku menyadarkan aku dari lamunan sesaat.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Gimana Ra? Kamu mau nggak jadi pacarku??</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Ingin aku mengiyakan, tapi kini wajah sahabat-sahabatku yang lain melintas di benakku. Haruskah aku berkhianat? Aku masih terdiam membisu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Aku tahu kamu bingung Ra. Tentang Keysha, itu hanya karanganku belaka. Hanya untuk melihat apa kamu akan cemburu kalau tahu aku deket sama cewek. Tapi ternyata aku salah, kamu nggak kasih respon seperti yang aku harapkan.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Pengakuan itu mengalir lancar dari mulut Rey. Membuatku semakin bingung. Perasaanku tak karuan, semua bercampur aduk jadi satu. Dan lagi-lagi aku masih membisu. Aku tak tahu harus bilang apa. Kurasakan air mataku mengalir membasahi pipiku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Tolong Rey, aku pengen sendiri sekarang.”</em>ucapku sambil berlari masuk ke ksamar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">***</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Semenjak malam itu, setiap kali bertemu Rey aku hanya bungkam. Kalaupun dia bertanya sesuatu aku hanya menjawab sekenanya. Anak-anak sampai heran dengan perubahan sikapku pada Rey. Apalagi Anti yang tahu banget kalau aku yang paling sering bermanja-manja ssama Rey. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kamu sama Rey ada apa sih Ra kok nggak kayak biasanya? Lagi marahan ya?”</em> tanya Anti suatu hari dalam perjalanan pulang kerja.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Nggak kok An, biasa aja. Mungkin karena aku lagi nggak mood aja.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Masak sih? Aneh deh Ra, akhir-akhir ini Rey sering tanyain kamu lho..!! tadinya aku cuek tapi sejak kita ngumpul dirumah Rey waktu itu, aku jadi kepikiran.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Oh ya? Emangnya tanya apa aja dia kok kamu sampe kepikiran gitu..?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Banyak. Waktu kita ngumpul dirumah Rey itu kan kamu datangnya telat, berkali-kali dia tanya kamu kemana, anak-anak juga pada ditanyain. Trus dia juga sering tanya, Rara kenapa sih kok mukanya kusut terus, dia juga tanya apa bener kalau kamu lagi patah hati,  dan bla..bla..bla..deh pokoknya yang ditanyain tuh yang aneh-aneh.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Trus kamu jawab gimana?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ya kubilang aja kalau kamu lagi ada masalah sama keluarga kamu tapi kamu nggak bisa cerita detailnya, ya seperti yang kamu bilang tempo hari.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Waktu dia tanya apa aku lagi patah hati, kamu jawab apa?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ku bilang kalau kamu tuh nggak lagi patah hati. Sapa sih yang bisa bikin seorang Rara patah hati?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Rey..”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Maksud kamu Ra..?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Aku membisu. Tak sanggup lagi aku menjawab pertanyaan Anti. Genangan airmata yang sejak tadi tertahan akhirnya tercurah dalam tangis.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kamu kenapa Ra, kok nangis??”</em>tanya Anti sambil menepikan mobil lalu merengkuh pundakku, memelukku. Tangisku pun semakin menjadi dalam pelukan sahabatku ini. Akhirnya aku bisa menenangkan diri dan kuputuskan untuk menceritakan semuanya pada Anti.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“ <span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Aku minta maaf ya An, juga sama anak-anak. Aku udah berkhianat.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Minta maaf? Berkhianat? Maksud kamu apa sih Ra, aku jadi tambah nggak ngerti?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kamu mau tahu kenapa tempo hari aku suntuk dan sering uring-uringan? Bukan karena masalah keluarga An, tapi karena emang aku lagi patah hati. Dan Rey adalah cowok yang udah matahin hati aku.”</em> jawabku memulai pengakuan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Apa..!!??”</em> tercengang Anti mendengarnya hingga hanya kata itu yang terlontar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kamu dan anak-anak boleh marah sama aku. Tapi inilah kenyataanya, aku jatuh cinta sama Rey. Hatiku sakit banget waktu Rey cerita-cerita kalau dia PDKT sama Keysha.”</em> lanjutku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Oh My God, jadi dugaanku selama ini bener kalau kamu suka sama Rey?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Aku hanya mengangguk lemas. Terasa lebih ringan sekarang beban di pundakku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Terus Rey tahu tentang perasaan kamu?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Dia juga ngrasain hal yang sama An. Malem minggu kemaren dia kerumah dan dia nembak aku.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Aku ingat dulu Aldi pernah cerita kalau dia pernah mergokin Rey lagi ngliatin foto kamu lama..banget. Trus apa jawaban kamu?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Aku belum jawab, aku bingung An mesti jawab apa.”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Lho..kalian kan sama-sama suka? Kenapa mesti bingung? Kenapa nggak kamu terima aja?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Dulu kita kan udah sepakat untuk nggak saling jatuh cinta, kamu lupa?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ya sih&#8230;tapi kan kalian saling suka, pasti anak-anak bisa ngerti..”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Tau ah An..eh dah sampe rumah nih, kamu mampir dulu kan?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Tanpa sadar ternyata udah ada di depan rumahku. Kuusap sisa airmataku lalu keluar dari sedan hitam milik Anti.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Nggak Ra, aku mesti ngantar ibuku ke supermarket, ntar malem aja yah..?!”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ntar malem kamu mau kesini?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kamu lupa? Ntar malem kan kita mesti ke ultahnya Aldi?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Iya..ya aku lupa. Kamu jemput aku ya, soalnya mobilku masih dibengkel, please..?” </em><span style="font-style:normal;">aku memohon.</span></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ok, sampe ketemu ntar malem ya..bye..”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Kupandangi sedan hitam itu hingga hilang ditikungan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">***</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Kupandangi pantulan wajahku di cermin. Kusisir kembali rambutku sambil menunggu Anti menjemputku. Pikiranku kembali melayang. Nanti di rumah Aldi pasti aku ketemu Rey. Apa yang mesti kulakukan? Aku nggak bisa terus menghindar darinya. Diapun pasti takkan membiarkan aku lepas dari sudut pandangnya. Bunyi klakson mobil membuyarkan lamunanku. Itu pasti Anti, akupun segera keluar.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Sebuah mobil Kijang Kuda warna black silver berhenti di depan gerbang. Itu bukan mobil Anti tapi mobil&#8230;Rey.  Aduh kok Rey? Bukan Anti?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Mau bengong sampe kapan? Anak-anak udah pada nungguin tuh!!</em> teriak Rey dari depan mobil.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Dengan malas kuayunkan kakiku menuju mobil. Rey menyambutku dengan membukakan pintu mobil.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Anti mana?”</em>tanyaku ketika Kijang ini mulai bergerak merayap memasuki jalan raya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Anti lagi dijemput sama Raka. Tadi dia telphone, katanya mobilnya mogok jadi dia minta dijemput. Dia juga bilang kalau kamu belum ada yang jemput,”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>&#8216;Oooh gitu..?”</em>jawabku. Jujur aku masih malas menghadapi apa yang terjadi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">***</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Dirumah Aldi semua udah ngumpul. Hanya pesta kecil, hanya ada orang tua, adiknya, dan kita sahabatnya. Setelah menyerahkan kado dan memberi ucapan pada Aldi aku lalu menyusul Anti yang duduh di bangku taman.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Hey tega kamu nyuruh Rey jemput aku.”</em>protesku padanya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Sory Ra, tapi aku juga nggak tahu kalau yang jemput kamu Rey..Trus gimana?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Gimana apanya?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ya kamu sama Rey tadi dijalan, secara kondisi kalian sekarang ini, eh Rey ngliatin kamu terus tuh..!!”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">belum sempat aku menjawab pertanyaan Anti, Dilla udah nimbrung. Jadi ku urungkan jawabanku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Hey pada ngrumpi apaan nih?” </em>tanya Dilla yang dasar anaknya suka ngrumpi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kita disini lagi ngomongin kamu, yang makin hari makin jarang keliatan aja.”</em> jawab Anti</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kenapa pada kangen ya..biasalah emang nggak rame kalau ngga ada aku..he..he..he..” </em>dasar narsis.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Justru kita bersyukur nggak ada kamu, nggak ada yang ngajakin ngrumpi.”</em> balas Anti.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Enak aja..liat aja ntar kalau kamu nyariin aku ..” </em>sambung Dilla sambil bersungu-sungut.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Udah-udah acaranya dimulai tu. Kita kesana yuk..!!”</em> ajakku .</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Akhirnya acara demi acara selesai. Kini tinggal kita berenam duduk di taman di bawah naungan langit berhiaskan bintang. Hening. Semua diam larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba Rey memecah kesunyian itu.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Aku mau nanya nih sama kalian semua, boleh nggak?”</em> katanya memulai.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Tanya aja Rey, pake minta ijin segala. Kayak lagi ngadepin dosen.” </em>sahut Dilla. Tuh anak emang selain suka ngrumpi juga suka nyolot.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Soal kesepakatan kita dulu, yang kita nggak boleh sailing jatuh cinta, apa masih berlaku?”</em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Emang kenapa Rey? Aku malah udah lupa kalau kita punya kesepakatan kayak gitu.”</em> jawab Raka.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Iya aku juga udah lupa.” </em>sambung Dilla. Aldi juga mengiyakan hal itu. Ternyata anak-anak udah pada lupa. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kalau aku masih ingat tapi udah nggak peduli lagi. Toh dulu waktu buat kesepakatannya kita kayak nggak serius.”</em> kata Anti.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kayaknya emang udah nggak berlaku deh abis udah pada lupa dan nggak peduli.” </em>lanjut Aldi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Emang kenapa sih Rey..? janganbikin penasaran donk!!” lagi-lagi si tukang ngrumpi nggak sabaran.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Gini, kalau memang udah ngga berlaku aku pengen kalian semua, taman ini, dan langit diatas sana jadi saksi aku malam ini.”</em>kata Rey.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Deg. Tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang berpacu dengan aliran darahku. Jangan-jangan dia mau buat pengakuan sama anak-anak?</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Jadi saksi apaan sih Rey? Emangnya kamu ngapain kok butuh saksi segala,.?”</em> Dilla nyolot lagi.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Sebenarnya udah lama aku nyimpen perasaan ini dan sekarang udah nggak ketahan lagi. Aku mau bilang kalau sebenarnya aku tu suka sama Rara.” </em></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Bener dugaanku, dia ngakuin semua. Anak-anak pada tercengang nggak percaya.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Malem minggu kemaren aku udah ungkapin semua  sama Rara, tapi Raranya belum jawab. Katanya Anti, itu karena Rara bingung soal kesepakatan kita dulu. Tapi sekarang udah jelas, jadi aku mohon Ra, kasih jawabannya sekarang, kamu mau nggak jadi pacarku?”</em> kata Rey lagi seraya menggenggam tanganku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;"><span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;">Sungguh aku nggak bisa berkata-kata. Tenggorokanku tercekat dan lagi-lagi airmataku tercurah.  Kupandangi satu per satu wajah sahabatku meminta pertimbangan. Satu per satupun mereka mengangguk tanda setuju. Akupun tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Tanpa peduli kanan-kiri Rey memelukku erat, tangisku semakin menjadi. Tapi kali ini adalah tangis bahagia yang tercurah. Akupun berbisik di telinganya, aku sayang kamu Rey. Dan Rey semakin erat memeluk tubuhku.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">&nbsp;</p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ehm..ehm..mentang-mentang udah jadian&#8230;pelukan terus..” </em>teriak Dilla menyadarkan aku dan Rey. Segera kulepaskan pelukan Rey.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Kamu pengen La? Sini aku yang peluk..he..he..”</em> sahut Raka</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Enak aja kamu, mending aku peluk tu pohon mangga daripada peluk kamu..huuh.”</em> tukas Dilla</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;font-style:normal;line-height:150%;">“<span style="font-family:Arial,sans-serif;"><span style="font-size:85%;"><em>Ya udah peluk tu pohon mangga..ha..ha..ha..”</em> sambung Aldi. Dilla hanya manyun sedang yang lain tertawa. Aku dan Rey saling pandang lalu tersenyum. Digenggamnya jemariku. Ini malam yang terindah yang kualami, pikirku.</span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dhewie.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dhewie.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dhewie.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dhewie.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dhewie.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dhewie.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dhewie.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dhewie.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dhewie.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dhewie.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dhewie.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dhewie.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dhewie.wordpress.com&blog=2057797&post=10&subd=dhewie&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dhewie.wordpress.com/2007/09/25/cerpen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f81c9d6a341be1832dc53c2fa8a2184c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dhewie</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>